Hai kamu, terima kasih ya sudah hadir di sini...
Tulisan ini pertama kali aku buat di tahun 2022, di masa aku sering mempertanyakan diriku sendiri. Saat itu, aku belum sepenuhnya mengerti bahwa rasa insecure bukan sesuatu yang harus dilawan mati-matian, tapi dipahami dengan perlahan. Hari ini, aku membacanya kembali... dan menyadari bahwa tulisanku dulu bukan tentang kelemahan, melainkan tentang keberanian untuk jujur pada diri sendiri.
Karena itu, aku mengunggah ulang tulisan ini. Bukan karena aku masih berada di titik yang sama, tapi karena aku tahu.... banyak dari kita masih berjalan di jalan yang serupa. 🌙
Kali ini, aku ingin mengajakmu membicarakan satu perasaan yang mungkin tidak asing... insecure.
Perasaan yang sering datang diam-diam, tapi mampu membuat kita mempertanyakan hampir semua hal tentang diri sendiri.
Aku mengatakan ini karena aku pernah mengalaminya.
Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali.
Dan mungkin, sampai sekarang pun, rasa itu masih sesekali muncul... hanya saja aku sudah belajar menyambutnya dengan cara yang lebih lembut.
Insecure adalah perasaan cemas dan takut yang muncul ketika kita merasa tidak cukup.
Tidak cukup cantik.
Tidak cukup pintar.
Tidak cukup berhasil.
Tidak cukup seperti yang diharapkan... oleh orang lain, atau oleh diri kita sendiri.
Perasaan ini membuat kita sulit menerima diri dengan tulus. Kita merasa tidak nyaman berada di tubuh dan hidup kita sendiri. Dan tanpa sadar, kita mulai membandingkan diri dengan orang lain, seolah hidup adalah perlombaan yang harus selalu dimenangkan.
Padahal, merasa insecure adalah hal yang sangat manusiawi.
Hampir semua orang pernah mengalaminya, dalam bentuk dan cerita yang berbeda-beda.
Namun, ketika rasa ini dibiarkan terlalu lama, ia bisa tumbuh menjadi beban.
Ia bisa memengaruhi kesehatan mental dan fisik kita... membuat kita overthinking, kehilangan kepercayaan diri, mengganggu hubungan sosial, bahkan membuat kita lupa bagaimana rasanya merasa cukup.
Mengenai insecure, setiap orang punya ceritanya sendiri.
Kita sering merasa bahwa orang lain jauh lebih baik, lebih mampu, dan lebih pantas daripada kita.
Padahal, orang-orang yang kita anggap “sempurna” pun sering merasa tidak sempurna dalam pandangan mereka sendiri.
Bahkan, ada kemungkinan bahwa mereka memandang kita sebagai sosok yang kuat... sesuatu yang mungkin tidak pernah kita sadari.
Sering kali, pikiran kita dipenuhi pertanyaan seperti “Kenapa orang lain bisa melakukan ini dan itu, sementara aku harus memulai dari nol?”, “Kenapa aku tidak bisa seperti mereka?”
Jika kamu pernah berpikir seperti itu, berhentilah sejenak.... Tarik napas....
Memulai dari nol bukanlah tanda kelemahan.
Justru itu adalah bukti bahwa kamu berani melangkah, meski belum tahu hasil akhirnya.
Apa yang sekarang kamu lihat dari orang lain adalah hasil dari perjalanan panjang mereka... usaha yang tidak terlihat, kegagalan yang tidak diceritakan, dan luka yang tidak kamu ketahui.
Tidak ada hasil indah yang datang tanpa proses. Dan tidak ada proses yang sia-sia.
Jika orang lain bisa melalui tantangan demi tantangan, kamu pun bisa... dengan caramu sendiri, dengan waktumu sendiri.
Kita semua dianugrahi potensi yang sama, hanya saja bebeda cara memanfaatkannya. — Sabrina Ara
Belajarlah melihat dirimu dengan lebih lembut.
Tidak semua hari harus produktif.
Tidak semua langkah harus sempurna.
Kamu tidak perlu menjadi versi orang lain untuk menjadi berharga.
Kamu cukup dengan dirimu yang sekarang... dengan segala usaha, kekurangan, dan proses yang sedang kamu jalani.
Cobalah untuk berhenti menyalahkan diri sendiri secara berlebihan.
Carilah lingkungan yang membuatmu merasa aman menjadi dirimu sendiri.
Mintalah pendapat dari orang-orang yang tulus, bukan dari mereka yang membuatmu merasa kecil.
Dan yang paling penting, belajarlah mencintai dirimu sendiri... bukan ketika kamu sudah mencapai segalanya, tapi bahkan ketika kamu masih berjuang.
Karena terkadang, langkah paling berani bukanlah menjadi lebih baik dari orang lain,
melainkan menerima diri sendiri apa adanya, lalu tetap memilih untuk bertumbuh. 🤍
Jika hari ini kamu masih merasa insecure, tidak apa-apa.
Kamu tidak sendirian.
Dan kamu tidak terlambat untuk belajar mencintai dirimu sendiri, sedikit demi sedikit.
"The moment you stop comparing, you start healing."✨
Terima kasih telah membaca sampai akhir. Semoga tulisan ini bisa menemani hati kamu yang mungkin juga sedang belajar pulih. Pelan-pelan saja. Tidak apa-apa jika belum sepenuhnya baik-baik saja.
Yang penting kamu tetap memilih untuk bertahan.
Sampai bertemu di tulisan berikutnya.
Dari aku,
yang juga sedang belajar mencintai dirinya sendiri.
ヾ(^▽^*)))
Aku berharap tulisan ini bukan hanya sekedar bagian dari blog, namun bisa memberikan refleksi sekaligus harapan untuk kamu yang masih terjebak dalam kebencian bahkan kekecewaan pada diri kamu sendiri.
Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan ini. Jika ada bagian yang terasa dekat denganmu, mungkin itu karena kita sedang belajar hal yang sama... mencintai diri sendiri dengan cara yang lebih lembut. Kamu tidak perlu menjadi siapa pun selain dirimu sendiri. Apa yang kamu miliki hari ini mungkin adalah doa orang lain. Jaga dirimu baik-baik, dan jangan lupa beristirahat dari dunia jika sudah terlalu bising.
Jika kamu ingin berbagi cerita atau pemikiran setelah membaca tulisan ini,
aku akan senang membacanya di kolom komentar.
Dan jika kamu ingin mengikuti perjalanan tulisanku selanjutnya, aku juga berbagi potongan refleksi di Instagram @riff_xlvii dan @serenesoul.xsolunar
Tulisan ini tidak bertujuan menyelesaikan semua masalahmu. Ia hanya ingin menjadi teman duduk sejenak... menemani, bukan menggurui. Jika setelah membacanya kamu masih membawa beban, tidak apa-apa. Ada hal-hal yang memang tidak selesai hanya dengan kata-kata. Serahkan sisanya pada Tuhan, karena ada hal-hal yang lebih tenang jika tidak kita pikul sendirian.
Terima kasih sudah membaca sejauh ini. Semoga kamu selalu diberi ruang untuk bernafas, dan kekuatan untuk tetap memilih dirimu sendiri.