Pernahkah kamu merasa bahwa diri kamu terdiri dari banyak versi? Ada yang ceria, ada yang rapuh, ada yang penuh harapan, dan ada pula yang masih menyimpan luka lama. Dan anehnya, semuanya hidup di dalam diri kita pada waktu yang sama, saling bertabrakan, saling berbisik, saling menuntut ruang.
Akhir-akhir ini aku mulai menyadari bahwa perjalanan mencintai diri sendiri bukan tentang memilih versi mana yang paling indah atau paling kuat. Tapi tentang menyediakan rumah bagi semuanya, yang aku sukai, yang aku benci, yang membuatku bangga, dan yang membuatkuku ingin bersembunyi.
Karena pada akhirnyam aku tidak bisa membangun diri yang utuh dengan menolak bagian-bagian tertentu dari diriku.
Dulu aku sering merasa harus menampilkan diri yang "baik-baik saja". Aku menutup pintu untuk versi diriku yang lelah, marah, atau bingung, seolah mereka akan merusak citra yang coba kutampilkan.
Tapi semakin lama, semkain terasa bahwa menolak bagian itu justru membuatku semakain rapuh. Seperti ada kamar-kamar gelap di dalam diri yang tidak pernah aku buka, dan semakin lama semakin menakutkan.
Mungkin kamu pernah merasakan hal yang sama?
Saat ini, aku sedang belajar sesuatu yang berbeda, belajar untuk duduk bersama diriku sendiri.
Duduk bersama verisku yang paling takut. Duduk bersama diriku yang pernah salah, yang pernah menyakiti, yang pernah kecewa. Duduk bersama diriku yang ingin menyerah. Dan duduk pula bersama diriku yang penuh cahaya.
Tidak selalu nyaman.
Tidak selalu indah.
Kadang aku ingin lari, kadang aku kembali membenci diri sendiri.
Namun setiap kali aku mencoba membuka ruang, meski hanya sedikit, aku menemukan ketenangan kecil. Seolah setiap versi diri hanya ingin didengarkan, bukan disingkirkan.
Bayangkan sebuah rumah dengan banyak pintu
Setiap pintu mengarah pada versi diri kamu, yang berani, yang terluka, yang penuh ambisi, yang angkuh, yang penuh harapan.
Rumah itu tidak mengusir siapa pun. Rumah itu tidak menolak siapa pun. Dan aku... aku sedang belajar membangun rumah itu di dalam diri.
Sebuah rumah yang tidak meminta kesempurnaan.
Rumah yang tidak bertanya, "Kenapa kamu masih seperti ini?" Rumah yang hanya berkata, "Kaku boleh ada disini. Aku melihatmu."
Dan kamu juga berhak memiliki rumah itu.
Kalau kamu sedang membaca ini dan merasa sulit mencintai diri sendiri, aku ingin mengatakan sesuatu...
Kamu tidak harus mencintai dirimu secara utuh hari ini. Cukup mulai dengan menyediakan ruang kecil. Untuk satu versi dari dirimu. Untuk satu rasa yang selama ini kamu hindari. Dan dari rasa kecil itu, rumahmu perlahan akan terbentuk.
Pada akhirnya...
Menerima diri bukan berarti kamu tidak ingin berubah.
Menerima diri berarti kamu berhenti berperang dengan dirimu sendiri, sehingga kamu bisa berubah dengan cara yang lebih lembut.
Hari ini, aku memilih untuk membukan pintu-pintu itu.
Satu per satu.
Pelan-pelan.
Dan membiarkan diriku pulang.
Karena aku ingin menjadi rumah bagi semua versi diriku.
Dan mungkin, kamu juga sedang belajar melakukan hal yang sama.
Terima kasih telah membaca sampai akhir. Semoga tulisan ini bisa menemani hati kamu yang mungkin juga sedang belajar pulih. Pelan-pelan saja. Tidak apa-apa jika belum sepenuhnya baik-baik saja.
Yang penting kamu tetap memilih untuk bertahan.
Sampai bertemu di tulisan berikutnya.
Dari aku,
yang juga sedang belajar mencintai dirinya sendiri.
ヾ(^▽^*)))
Aku berharap tulisan ini bukan hanya sekedar bagian dari blog, namun bisa memberikan refleksi sekaligus harapan untuk kamu yang masih terjebak dalam kebencian bahkan kekecewaan pada diri kamu sendiri.
Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan ini. Jika ada bagian yang terasa dekat denganmu, mungkin itu karena kita sedang belajar hal yang sama... mencintai diri sendiri dengan cara yang lebih lembut. Kamu tidak perlu menjadi siapa pun selain dirimu sendiri. Apa yang kamu miliki hari ini mungkin adalah doa orang lain. Jaga dirimu baik-baik, dan jangan lupa beristirahat dari dunia jika sudah terlalu bising.
Jika kamu ingin berbagi cerita atau pemikiran setelah membaca tulisan ini,
aku akan senang membacanya di kolom komentar.
Dan jika kamu ingin mengikuti perjalanan tulisanku selanjutnya, aku juga berbagi potongan refleksi di Instagram @riff_xlvii dan @serenesoul.xsolunar
Tulisan ini tidak bertujuan menyelesaikan semua masalahmu. Ia hanya ingin menjadi teman duduk sejenak... menemani, bukan menggurui. Jika setelah membacanya kamu masih membawa beban, tidak apa-apa. Ada hal-hal yang memang tidak selesai hanya dengan kata-kata. Serahkan sisanya pada Tuhan, karena ada hal-hal yang lebih tenang jika tidak kita pikul sendirian.
Terima kasih sudah membaca sejauh ini. Semoga kamu selalu diberi ruang untuk bernafas, dan kekuatan untuk tetap memilih dirimu sendiri.