Langsung ke konten utama

Postingan

Suara yang Terus Berulang

 Hai kamu, terima kasih ya sudah klik blog ini... Pernahkah kamu mengingat kembali sebuah ucapan yang sebenarnya sudah terjadi sangat lama? Mungkin kalimat itu diucapkan hanya dalam beberapa detik. Tidak panjang, tidak selalu terdengar seperti sesuatu yang besar, bahkan mungkin orang yang mengucapkannya sudah tidak lagi mengingat apa yang pernah ia katakan. Namun entah mengapa, kalimat itu masih tinggal di dalam kepalamu. Ia muncul kembali ketika kamu sedang sendirian, ketika suasana sedang sepi, atau bahkan ketika ada sesuatu yang tanpa sengaja mengingatkanmu pada hari itu. Kamu mungkin sudah mencoba melupakannya, meyakinkan diri bahwa itu hanya sebuah ucapan, tetapi suara tersebut tetap kembali dan berulang seolah-olah tidak pernah benar-benar pergi. "Ucapanmu mungkin selesai saat itu juga. Tapi bagi orang lain, bisa jadi suara itu terus berulang tanpa henti di kepalanya." — 19 letters (TikTok) Ada kata-kata yang selesai bersamaan dengan percakapan. Setelah diucapkan, orang...
Postingan terbaru

Sampai Bertemu Lagi, Diriku

  Hai kamu, terima kasih ya sudah klik blog ini... Pernahkah kamu merindukan seseorang yang sebenarnya tidak pernah benar-benar pergi? Seseorang yang dulu begitu dekat, begitu memahami isi hatimu, tetapi sekarang terasa jauh seolah dipisahkan oleh waktu yang panjang. Mungkin awalnya kamu akan membayangkan seorang sahabat, seseorang yang pernah mengisi hari-harimu, atau seseorang yang pernah menjadi rumah bagi banyak cerita. Namun kali ini, aku ingin mengajakmu memikirkan seseorang yang berbeda. Seseorang yang setiap hari ada bersamamu, melihat setiap tangismu, menemani setiap perjuanganmu, dan tetap bertahan bahkan ketika seluruh dunia terasa berjalan menjauh. Seseorang itu adalah dirimu sendiri. Entah sejak kapan, banyak dari kita mulai kehilangan kedekatan dengan diri sendiri. Bukan karena kita sengaja meninggalkannya, melainkan karena hidup perlahan-lahan mengajak kita berlari ke terlalu banyak arah. Kita sibuk mengejar masa depan, sibuk memenuhi ekspektasi, sibuk menjadi kuat, ...

Yang Pergi, Memang Bukan Milikmu

Hai kamu, terima kasih ya sudah hadir di sini... Ada masa di mana kita mengejar sesuatu begitu jauh, seolah-olah hidup kita bergantung pada itu. Kita berusaha, berdoa, menunggu, bahkan memaksa diri untuk tetap bertahan, karena kita percaya bahwa jika kita cukup kuat dan cukup sabar, semuanya akan menjadi milik kita. Tapi di tengah perjalanan itu, sering kali kita lupa satu hal sederhana... tidak semua yang kita inginkan, memang ditakdirkan untuk kita. Pernah tidak kamu merasa sudah melakukan segalanya dengan baik, tapi hasilnya tetap tidak sesuai harapan? Atau mungkin, sesuatu itu sudah hampir kamu genggam, sudah terasa dekat, tapi pada akhirnya tetap pergi begitu saja. Rasanya pasti mengecewakan, seperti ada ruang kosong yang tiba-tiba terbuka di dalam hati. Kamu mulai bertanya dalam diam, mencoba memahami, bahkan mungkin menyalahkan diri sendiri, seolah-olah semua itu terjadi karena kamu kurang berusaha atau belum cukup baik. Padahal, tidak selalu seperti itu. Ada hal-hal dalam hid...

Bahagia yang Cukup Dirasakan

Hai kamu… terima kasih ya sudah kembali datang 🤍 Ada hari-hari yang terasa biasa saja. Tidak terlalu istimewa, tidak juga terlalu berat. Hari yang berjalan pelan, tanpa banyak cerita yang bisa dibagikan. Tapi entah kenapa, di dalamnya ada sesuatu yang hangat… sesuatu yang membuatmu merasa cukup, tanpa harus mencari lebih jauh. Mungkin dulu kamu berpikir bahwa bahagia itu harus terlihat. Harus punya bentuk yang jelas, harus bisa diceritakan, harus bisa dibuktikan. Bahwa bahagia adalah sesuatu yang besar, yang ramai, yang bisa membuat orang lain ikut melihat dan mengakui. Tapi semakin kamu berjalan, semakin kamu mengerti… tidak semua bahagia seperti itu. Ada bahagia yang datang tanpa suara. Tanpa perlu diumumkan. Tanpa perlu dimengerti oleh siapa pun. Seperti saat kamu duduk sendiri, menikmati waktu tanpa gangguan. Atau ketika kamu menarik napas panjang dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama… dadamu terasa lebih ringan. Tidak ada yang berubah secara besar, tapi ada sesuatu di d...

Pulang, Meski Pelan

 Hai kamu… terima kasih ya sudah kembali meluangkan waktu untuk membaca 🤍 Ada masa di mana hati terasa begitu jauh. Bukan hanya dari orang lain, tapi juga dari diri sendiri… bahkan dari Tuhan. Hari-hari tetap berjalan seperti biasa, tapi ada yang terasa kosong. Seolah ada jarak yang tidak terlihat, tapi begitu nyata. Kamu masih berusaha menjalani semuanya, masih tersenyum, masih mencoba kuat… tapi di dalam, ada suara pelan yang bertanya, “aku sebenarnya sedang ke mana?” Mungkin kamu pernah merasa seperti itu. Atau mungkin… kamu sedang ada di titik itu sekarang. Ada perasaan bersalah yang datang diam-diam. Tentang hal-hal yang sudah terjadi, tentang keputusan yang pernah diambil, tentang diri yang terasa tidak seperti yang diharapkan. Kamu mulai mempertanyakan diri sendiri, mulai merasa seperti sudah terlalu jauh untuk kembali. Seolah-olah ada batas tak terlihat yang membuatmu ragu… apakah aku masih boleh pulang? Tapi di tengah semua perasaan itu, ada satu hal yang sering kita lupa...

Tidak Semua Luka Harus Diwariskan ke Hari Esok

 Hai kamu, terima kasih ya sudah hadir di sini... Ada masa di hidupku ketika rasa sakit terasa seperti warisan. Seolah-olah apa pun yang kualami hari ini harus kubawa juga ke hari esok, dan hari setelahnya, tanpa pernah diberi kesempatan untuk berhenti. Luka-luka lama berubah menjadi kebiasaan. Cara bicara yang keras pada diri sendiri terasa wajar. Aku tumbuh dengan keyakinan bahwa bertahan berarti menahan, dan menahan berarti menyakiti diri sendiri diam-diam. Aku terbiasa menilai diriku dari kegagalan. Satu kesalahan kecil cukup untuk membuatku merasa tidak layak. Aku memutar ulang masa lalu seperti kaset rusak... menghitung apa saja yang seharusnya kulakukan lebih baik, lebih cepat, lebih benar. Aku menyebut itu refleksi, padahal sering kali itu hanya hukuman yang kuberikan pada diriku sendiri. Musim itu tidak singkat. Ia membentuk caraku memandang diri, caraku memulai hari, bahkan caraku beristirahat. Aku merasa bersalah ketika lelah, merasa lemah ketika butuh jeda, merasa ga...

Sisa Hari yang Mengajarkanku untuk Tidak lagi Bergegas

 Hai kamu, terima kasih ya sudah hadir di sini... Ada satu titik dalam hidup ketika aku menyadari betapa seringnya aku berlari.. bukan karena aku punya tujuan yang jelas, tetapi karena aku takut tertinggal oleh orang lain. Aku mengejar validasi, mengejar pencapaian, mengejar rasa aman yang ternyata tidak pernah benar-benar aku beri pada diriku sendiri. Dan kini, di sisa hari menjelang pergantian waktu, aku duduk di sebuah ruang tenang yang dulu jarang sekali aku beri kesempatan untuk ada... ruang untuk berhenti. Aneh rasanya. Dalam keheningan seperti ini, aku bisa mendengar napasku sendiri. Pelan. Tidak tergesa-gesa. Aku juga bisa mendengar suara batin yang selama ini aku abaikan, suara yang selalu ingin berbicara tetapi kalah oleh kebisingan ambisi dan ketakutan. Suara itu kini berkata pelan, "Lihatlah, kamu tidak harus selalu berlari" . Hari-hari terakhir ini seolah menjadi cermin yang jernih.. tanpa kabur, tanpa bias. Aku bisa melihat versi diriku yang pernah terlalu keras...