Hai kamu, terima kasih ya sudah hadir di sini... Ada masa di hidupku ketika rasa sakit terasa seperti warisan. Seolah-olah apa pun yang kualami hari ini harus kubawa juga ke hari esok, dan hari setelahnya, tanpa pernah diberi kesempatan untuk berhenti. Luka-luka lama berubah menjadi kebiasaan. Cara bicara yang keras pada diri sendiri terasa wajar. Aku tumbuh dengan keyakinan bahwa bertahan berarti menahan, dan menahan berarti menyakiti diri sendiri diam-diam. Aku terbiasa menilai diriku dari kegagalan. Satu kesalahan kecil cukup untuk membuatku merasa tidak layak. Aku memutar ulang masa lalu seperti kaset rusak... menghitung apa saja yang seharusnya kulakukan lebih baik, lebih cepat, lebih benar. Aku menyebut itu refleksi, padahal sering kali itu hanya hukuman yang kuberikan pada diriku sendiri. Musim itu tidak singkat. Ia membentuk caraku memandang diri, caraku memulai hari, bahkan caraku beristirahat. Aku merasa bersalah ketika lelah, merasa lemah ketika butuh jeda, merasa ga...
Serenity Your Soul