Langsung ke konten utama

LOVE YOURSELF, From Now On!

Hai kamu, terima kasih ya sudah hadir di sini..

Ada satu hal yang sering kita lakukan tanpa sadar... memberi begitu banyak perhatian pada orang lain, namun lupa menanyakan kabar pada diri sendiri.

Tulisan ini lahir dari kesadaran itu. Bahwa mencintai diri sendiri bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang berhenti meninggalkan diri sendiri di tengah perjalanan hidup.

Aku sering berpikir, mengapa mencintai orang lain terasa lebih mudah dibanding mencintai diri sendiri? Kita bisa begitu sabar pada kesalahan orang lain, namun begitu keras pada diri sendiri.

Padahal, bagaimana mungkin kita mampu memberi cinta yang utuh, jika kita sendiri belum berdamai dengan diri kita?

Mencintai diri sendiri bukan tentang keegoisan. Ia adalah fondasi. Tempat kita berpijak agar tidak runtuh setiap kali dunia terasa berat. 

Mencintai diri sendiri berarti mengakui bahwa kita lelah. Berani berhenti sejenak tanpa merasa bersalah. Berani menerima bahwa kita sedang bertumbuh, bukan tertinggal.

Ia bukan tentang selalu merasa bahagia, melainkan tentang tetap memilih diri sendiri bahkan di hari-hari ketika segalanya terasa berantakan. Saat kita mencintai diri sendiri, kita tidak lagi sibuk membandingkan hidup kita dengan orang lain. Kita belajar memahami bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing, dan perjalanan kita tidak harus serupa agar tetap berharga.

Aku menyadari, ketika seseorang tidak mencintai dirinya sendiri, ia mudah terjebak dalam pikiran yang melelahkan... merasa kurang, merasa gagal, merasa tertinggal.

Perasaan itu pelan-pelan menggerogoti kepercayaaan diri, hingga akhirnya membuat kita lupa bahwa kita pun layak mendapatkan cinta dan pengertian.

Karena itu, mencintai diri sendiri bukan sekedar anjuran indah, melainkan kebutuhan yang sering kita abaikan.

Yang sering disalahpahami, mencintai diri sendiri tidak selalu dimulai dari hal besar. Ia justru tumbuh dari hal-hal kecil yang konsisten.

Dari tidur yang cukup ketika tubuh meminta istirahat. Dari memilih makan dengan lebih sadar. Dari mengurangi begadang, bukan karena tuntutan, tapi karena peduli.

Dari keberanian untuk meletakan ponsel sejenak dan benar-benar hadir di hidup sendiri.

Dan meluangkan waktu tanpa tujuan produktif, selain merasa tenang dan utuh.

Mencintai diri sendiri juga berarti memberi ruang pada perasaan yang tidak selalu rapi. Menulis ketika hati penuh, berbicara pada diri sendiri dengan suara yang lembut, dan berhenti memaki diri atas hal-hal yang belum kita capai.

Ia berarti belajar menyaring pikiran, mengurangi asupan hal-hal yang membuat kita merasa tidak cukup, dan memilih untuk fokus pada apa yang masih bisa kita usahakan hari ini.

Dan mungkin, mencintai diri sendiri juga tentang keberanian memilih lingkungan. Bertahan berasama orang-orang yang membuat kita merasa aman, dan perlahan menjauh dari mererka yang memebuat kita terus meragukan diri sendiri. 

Tidak semua hubungan harus dipertahankan, terutama jika kehadirannya membaut kita kehilangan diri.

Tulisan ini tidak bertujuan mengajarimu cara hidup. Ia hanya pengingat kecil... untuk kamu dan juga untuk aku.

Bahwa mencintai diri sendiri bukan sesuatu yang selesai dalam satu waktu. Ia adalah keputusan yang perlu diulang, lagi dan lagi.

Dan jika hari ini kamu baru bisa melakukannya sedikit, itu sudah cukup.

Karena mulai sekarang, tidak ada yang lebih penting untuk kamu jaga selain diri kamu sendiri. 

Terima kasih telah membaca sampai akhir. Semoga tulisan ini bisa menemani hati kamu yang mungkin juga sedang belajar pulih. Pelan-pelan saja. Tidak apa-apa jika belum sepenuhnya baik-baik saja. 

Yang penting kamu tetap memilih untuk bertahan.

Sampai bertemu di tulisan berikutnya.
Dari aku, 
yang juga sedang belajar mencintai dirinya sendiri.

(^^*)))

 

Aku berharap tulisan ini bukan hanya sekedar bagian dari blog, namun bisa memberikan refleksi sekaligus harapan untuk kamu yang masih terjebak dalam kebencian bahkan kekecewaan pada diri kamu sendiri. 

Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan ini. Jika ada bagian yang terasa dekat denganmu, mungkin itu karena kita sedang belajar hal yang sama... mencintai diri sendiri dengan cara yang lebih lembut. Kamu tidak perlu menjadi siapa pun selain dirimu sendiri. Apa yang kamu miliki hari ini mungkin adalah doa orang lain. Jaga dirimu baik-baik, dan jangan lupa beristirahat dari dunia jika sudah terlalu bising.

Jika kamu ingin berbagi cerita atau pemikiran setelah membaca tulisan ini,
aku akan senang membacanya di kolom komentar.

Dan jika kamu ingin mengikuti perjalanan tulisanku selanjutnya, aku juga berbagi potongan refleksi di Instagram @riff_xlvii dan @serenesoul.xsolunar

Tulisan ini tidak bertujuan menyelesaikan semua masalahmu. Ia hanya ingin menjadi teman duduk sejenak... menemani, bukan menggurui. Jika setelah membacanya kamu masih membawa beban, tidak apa-apa. Ada hal-hal yang memang tidak selesai hanya dengan kata-kata. Serahkan sisanya pada Tuhan, karena ada hal-hal yang lebih tenang jika tidak kita pikul sendirian. 

Terima kasih sudah membaca sejauh ini. Semoga kamu selalu diberi ruang untuk bernafas, dan kekuatan untuk tetap memilih dirimu sendiri.

Postingan populer dari blog ini

Me, Insecure?

Hai kamu, terima kasih ya sudah hadir di sini... Tulisan ini pertama kali aku buat di tahun 2022, di masa aku sering mempertanyakan diriku sendiri. Saat itu, aku belum sepenuhnya mengerti bahwa rasa insecure bukan sesuatu yang harus dilawan mati-matian, tapi dipahami dengan perlahan. Hari ini, aku membacanya kembali... dan menyadari bahwa tulisanku dulu bukan tentang kelemahan, melainkan tentang keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Karena itu, aku mengunggah ulang tulisan ini. Bukan karena aku masih berada di titik yang sama, tapi karena aku tahu.... banyak dari kita masih berjalan di jalan yang serupa. 🌙 Kali ini, aku ingin mengajakmu membicarakan satu perasaan yang mungkin tidak asing...  insecure . Perasaan yang sering datang diam-diam, tapi mampu membuat kita mempertanyakan hampir semua hal tentang diri sendiri. Aku mengatakan ini karena aku pernah mengalaminya. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Dan mungkin, sampai sekarang pun, rasa itu masih sesekali muncul... h...

Cahaya Pertama yang Kutemukan Setelah Gelap Panjang

Hai kamu, terima kasih ya sudah hadir di sini.... Ada masa dalam hidupku ketika hari-hari terasa berjalan tanpa bentuk. Rasanya seperti bangun setiap pagi hanya untuk mengulang pola yang sama, tanpa mengetahui apa yang sebenarnya ingin aku raih atau ke mana aku harus melangkah. Gelapnya bukan seperti malam... lebih seperti kabut tebal yang menutup jarak pandang. Aku ada, tapi tidak benar-benar hidup. Aku melihat, tapi tidak benar-benar memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam diriku. Aku terbiasa menutupi semuanya dengan alasan-alasan sederhana "Aku hanya lelah," atau "Ini hanya fase,"  atau "Nanti juga baik-baik saja." Tapi lama-kelamaan, aku tahu bahwa itu bukan sekedar kelelahan. Ada sesuatu dalam diri yang menjerit minta diperhatikan, tapi aku terlalu sibuk menjadi kuat sehingga tidak pernah benar-benar mendengarnya. Gelap panjang itu bukan tiba-tiba datang. Ia tumbuh pelan, seperti bayangan yang semakin menutupi ruang, sampai aku tidak sadar kalau a...

Rumah yang Kusediakan untuk Setiap Versi Dalam Diriku

Hai kamu, terima kasih ya sudah hadir di sini.... Pernahkah kamu merasa bahwa diri kamu terdiri dari banyak versi? Ada yang ceria, ada yang rapuh, ada yang penuh harapan, dan ada pula yang masih menyimpan luka lama. Dan anehnya, semuanya hidup di dalam diri kita pada waktu yang sama, saling bertabrakan, saling berbisik, saling menuntut ruang. Akhir-akhir ini aku mulai menyadari bahwa perjalanan mencintai diri sendiri bukan tentang memilih versi mana yang paling indah atau paling kuat. Tapi tentang menyediakan rumah bagi semuanya, yang aku sukai, yang aku benci, yang membuatku bangga, dan yang membuatkuku ingin bersembunyi. Karena pada akhirnyam aku tidak bisa membangun diri yang utuh dengan menolak bagian-bagian tertentu dari diriku. Dulu aku sering merasa harus menampilkan diri yang "baik-baik saja". Aku menutup pintu untuk versi diriku yang lelah, marah, atau bingung, seolah mereka akan merusak citra yang coba kutampilkan. Tapi semakin lama, semkain terasa bahwa menolak bag...