Langsung ke konten utama

When I Hated Myself

 Hai kamu, terima kasih ya sudah klik blog ini...

Apa yang terlintas pertama kali ketika kamu mendengar kata benci? Emosi, tidak suka, kekecewaan, atau rasa sakit yang terus menumpuk? Ketika mendengar kata benci, mungkin bagi sebgaian orang kata itu ditujukan untuk mengekspresikan sebuah rasa pada seseorang yang memang pernah menaruh luka pada diri kita. Tapi bagamana jika kata benci itu untuk diri kita sendiri? "Aku membenci diriku sendiri"

Aku pernah membaca, "..., banyak filsafat dan pemikir besar yang berpendapat bahwa kebencian lebih merugikan diri sendiri daripada orang yang menjadi targetnya." Jika kebencian terhadap orang lain saja sudah dianggap merugikan diri sendiri, lalu bagaimana jika kebencian itu diarahkan pada diri kita sendiri?

Dalam filsafat dan psikologi, banyak yang berpendapat bahwa kebencian adalah emosi yang menguras energi. Ketika kamu membenci diri kamu sendiri, kamu membawa beban berat yang terus-menerus menggerogoti kebahagiaan kamu. 

Kebencian terhadap diri sendiri bukan sekedar perasaan sementara, tetapi bisa menjadi rantai ynag membelenggu seseorang dalam siklus negatif yang sulit diputus.

Kebencian terhadap diri sendiri bukanlah takdir yang harus diterima. Ini adalah tantangan, tapi juga kesempatan untuk belajar mengenali diri dengan lebih baik.

Mengatasi kebencian terhadap diri sendiri adalah proses yang membutuhkan kesabaran dan kesadaran diri. Sebelum mengatasinya, penting untuk memahami dari mana perasaan ini berasal. Coba reflesikan kapan dan bagaimana perasaan itu muncul. Kenali bahwa kebencian terhadap diri sendiri bukanlah kebenaran mutlak, melainkan respon terhadap pengalaman tertentu.

Banyak kebencian terhadap diri sendiri berasal dari pola pikir yang keras dan tidak realistis. Berlatih self-compassion : berbicara kepada diri sendiri dengan kata-kata yang lebih lembut. Gantikan "aku gagal" dengan "aku sedang belajar dan berkembang".

Berbagai perasaan dengan orang lain juga dapat membantu memecah isolasi dan memberikan perspektif baru. Bicarakan dengan teman dekat atau keluarga yang bisa mendukung kamu. Bergabung dengan komunitas yang bisa memberikan dukungan emosional. Jika memungkikan, pertimbangkan konseling atau terapi untuk mendapatkan bantuan profesional.

Seringkali, kebencian terhadap diri sendiri membuat seseoarng mengabaikan kebutuhan mereka. Luangkan waktu kamu untuk melakukan hal-hal yang membuat kamu merasa lebih baik. Jangan lupakan aktivitas yang memberikan rasa pencapaian dan kesenangan kamu. Menjaga kesehatan fisik seperti cukup tidur, makan dengan baik dan bergerak juga bisa membantu kesejahteraan emosional kamu. 

Terima diri dan berlatih kesabaran. Penerimaan diri bukan berarti menyerah, tetapi memahami bahwa semua orang memiliki kekurangan dan kelebihan. Hargai setiap langkah kecil kamu menuju pemulihan. Ingatkan diri bahwa perubahan membutuhkan waktu dan itu tidak apa-apa. Berlatih rasa syukur terhadap aspek positif dalam diri kamu, sekecil apa pun.

Kamu tidak sendirian dalam menghadapi ini, dan selalu ada jalan untuk keluar dari lingkaran ini. 

Aku berharap tulisan ini bukan hanya sekedar bagian dari blog, namun bisa memberikan refleksi sekaligus harapan untuk kamu yang masih terjebak dalam kebencian bahkan kekecewaan pada diri kamu sendiri. 

Terima kasih telah membaca sampai akhir. Semoga tulisan ini bisa menemani hati kamu yang mungkin juga sedang belajar pulih. Pelan-pelan saja. Tidak apa-apa jika belum sepenuhnya baik-baik saja. 

Yang penting kamu tetap memilih untuk bertahan.

Sampai bertemu di tulisan berikutnya.
Dari aku, 
yang juga sedang belajar mencintai dirinya sendiri.

(^^*)))

 

Aku berharap tulisan ini bukan hanya sekedar bagian dari blog, namun bisa memberikan refleksi sekaligus harapan untuk kamu yang masih terjebak dalam kebencian bahkan kekecewaan pada diri kamu sendiri. 

Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan ini. Jika ada bagian yang terasa dekat denganmu, mungkin itu karena kita sedang belajar hal yang sama... mencintai diri sendiri dengan cara yang lebih lembut. Kamu tidak perlu menjadi siapa pun selain dirimu sendiri. Apa yang kamu miliki hari ini mungkin adalah doa orang lain. Jaga dirimu baik-baik, dan jangan lupa beristirahat dari dunia jika sudah terlalu bising.

Jika kamu ingin berbagi cerita atau pemikiran setelah membaca tulisan ini,
aku akan senang membacanya di kolom komentar.

Dan jika kamu ingin mengikuti perjalanan tulisanku selanjutnya, aku juga berbagi potongan refleksi di Instagram @riff_xlvii dan @serenesoul.xsolunar

Tulisan ini tidak bertujuan menyelesaikan semua masalahmu. Ia hanya ingin menjadi teman duduk sejenak... menemani, bukan menggurui. Jika setelah membacanya kamu masih membawa beban, tidak apa-apa. Ada hal-hal yang memang tidak selesai hanya dengan kata-kata. Serahkan sisanya pada Tuhan, karena ada hal-hal yang lebih tenang jika tidak kita pikul sendirian. 

Terima kasih sudah membaca sejauh ini. Semoga kamu selalu diberi ruang untuk bernafas, dan kekuatan untuk tetap memilih dirimu sendiri.


Postingan populer dari blog ini

Me, Insecure?

Hai kamu, terima kasih ya sudah hadir di sini... Tulisan ini pertama kali aku buat di tahun 2022, di masa aku sering mempertanyakan diriku sendiri. Saat itu, aku belum sepenuhnya mengerti bahwa rasa insecure bukan sesuatu yang harus dilawan mati-matian, tapi dipahami dengan perlahan. Hari ini, aku membacanya kembali... dan menyadari bahwa tulisanku dulu bukan tentang kelemahan, melainkan tentang keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Karena itu, aku mengunggah ulang tulisan ini. Bukan karena aku masih berada di titik yang sama, tapi karena aku tahu.... banyak dari kita masih berjalan di jalan yang serupa. 🌙 Kali ini, aku ingin mengajakmu membicarakan satu perasaan yang mungkin tidak asing...  insecure . Perasaan yang sering datang diam-diam, tapi mampu membuat kita mempertanyakan hampir semua hal tentang diri sendiri. Aku mengatakan ini karena aku pernah mengalaminya. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Dan mungkin, sampai sekarang pun, rasa itu masih sesekali muncul... h...

Cahaya Pertama yang Kutemukan Setelah Gelap Panjang

Hai kamu, terima kasih ya sudah hadir di sini.... Ada masa dalam hidupku ketika hari-hari terasa berjalan tanpa bentuk. Rasanya seperti bangun setiap pagi hanya untuk mengulang pola yang sama, tanpa mengetahui apa yang sebenarnya ingin aku raih atau ke mana aku harus melangkah. Gelapnya bukan seperti malam... lebih seperti kabut tebal yang menutup jarak pandang. Aku ada, tapi tidak benar-benar hidup. Aku melihat, tapi tidak benar-benar memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam diriku. Aku terbiasa menutupi semuanya dengan alasan-alasan sederhana "Aku hanya lelah," atau "Ini hanya fase,"  atau "Nanti juga baik-baik saja." Tapi lama-kelamaan, aku tahu bahwa itu bukan sekedar kelelahan. Ada sesuatu dalam diri yang menjerit minta diperhatikan, tapi aku terlalu sibuk menjadi kuat sehingga tidak pernah benar-benar mendengarnya. Gelap panjang itu bukan tiba-tiba datang. Ia tumbuh pelan, seperti bayangan yang semakin menutupi ruang, sampai aku tidak sadar kalau a...

Rumah yang Kusediakan untuk Setiap Versi Dalam Diriku

Hai kamu, terima kasih ya sudah hadir di sini.... Pernahkah kamu merasa bahwa diri kamu terdiri dari banyak versi? Ada yang ceria, ada yang rapuh, ada yang penuh harapan, dan ada pula yang masih menyimpan luka lama. Dan anehnya, semuanya hidup di dalam diri kita pada waktu yang sama, saling bertabrakan, saling berbisik, saling menuntut ruang. Akhir-akhir ini aku mulai menyadari bahwa perjalanan mencintai diri sendiri bukan tentang memilih versi mana yang paling indah atau paling kuat. Tapi tentang menyediakan rumah bagi semuanya, yang aku sukai, yang aku benci, yang membuatku bangga, dan yang membuatkuku ingin bersembunyi. Karena pada akhirnyam aku tidak bisa membangun diri yang utuh dengan menolak bagian-bagian tertentu dari diriku. Dulu aku sering merasa harus menampilkan diri yang "baik-baik saja". Aku menutup pintu untuk versi diriku yang lelah, marah, atau bingung, seolah mereka akan merusak citra yang coba kutampilkan. Tapi semakin lama, semkain terasa bahwa menolak bag...