Hai kamu, terima kasih ya sudah klik blog ini...
Ada masa ketika aku merasa seperti hanya menjadi penonton dalam hidupku sendiri. Tubuhku bergerak, tetapi jiwaku tertinggal entah di mana. Hari-hariku diisi rutinitas tanpa makna, bangun, bekerja, tersenyum, tertawa, lalu tidur dalam kelelahan yang tidak aku mengerti asalnya. Aku ada, tapi rasanya tidak benar-benar hidup.
Semua terasa kewajiban. Aku melakukan banyak hal bukan karena aku ingin, melainkan karena aku merasa harus. Aku terlalu sibuk menjadi versi terbaik menurut orang lain sampai lupa bertanya "apa sebenarnya yang aku mau".
Aku pernah percaya bahwa mencintai diri sendiri itu egois, bahwa mengutamakan perasaan sendiri berarti mengabakan orang lain. Maka aku menekan tangis, tersenyum saat ingin berteriak, dan terus berjalan padahal hatiku merintih. Aku berpura-pura kuat, karena kupikir itu satu-satunya cara untuk bertahan, tapi semua itu justru menjauhkan aku dari diriku sendiri.
Sampai pada suatu malam yang tidak akan pernah aku lupa. Aku duduk sendiri, tanpa suara, dan akhirnya mengakui: aku lelah. Lelah menjadi apa yang diharapkan orang lain, lelah terlihat "baik-baik saja". Lelah menjadi asing terhadap diri sendiri.
Dari kelelahan itulah, perjalanan ini bermula.
Aku mulai menulis lagi. Bukan untuk dibaca orang lain, tetapi untuk mendengar suara batinku sendiri. Aku belajar diam, memberi ruang untuk rasa yang datang dan pergi. Aku mulai pelan-pelan, tanpa tujuan, hanya untuk merasakan kehadiran. Dan dari sana, aku mulai mengenal kembali diriku dalam bentuk yang paling tulus dan tidak dibungkus pretensi.
Self-love, ternyata bukan tentang mencintai diri saat semuanya baik-baik saja. Tapi tentang memaafkan diri saat gagal. Tentang mengatakan "cukup" tanpa merasa bersalah. Tentang menatap cermin dan berbisik, "aku mencintaimu, walaupun belum sepenuhnya utuh".
Perjalanannya masih panjang. Tapi kini aku tahu setiap langkah kecil yang kuambil hari ini membawaku lebih dekat dengan versi diriku yang lebih jujur, utuh, dan hangat. Versi yang tidak lagi menuntut kesempurnaan, melainkan menerima diri sendiri apa adanya.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku tak lagi terburu-buru untuk sembuh. Aku cukup, aku hadir, aku pulang.
Terima kasih, aku.
Belajarlah mencintai diri kamu sendiri, bukan hanya saat kamu merasa cukup, tapi juga ketika kamu rapuh, bingung, dan bertanya-tanya apa yang salah dengan kamu. Karena justru ditengah keraguan dan luka, kamu paling butuh pelukan.
Terima kasih telah membaca sampai akhir. Semoga tulisan ini bisa menemani hati kamu yang mungkin juga sedang belajar pulih. Pelan-pelan saja. Tidak apa-apa jika belum sepenuhnya baik-baik saja.
Yang penting kamu tetap memilih untuk bertahan.
Sampai bertemu di tulisan berikutnya.
Dari aku,
yang juga sedang belajar mencintai dirinya sendiri.
ヾ(^▽^*)))
Aku berharap tulisan ini bukan hanya sekedar bagian dari blog, namun bisa memberikan refleksi sekaligus harapan untuk kamu yang masih terjebak dalam kebencian bahkan kekecewaan pada diri kamu sendiri.
Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan ini. Jika ada bagian yang terasa dekat denganmu, mungkin itu karena kita sedang belajar hal yang sama... mencintai diri sendiri dengan cara yang lebih lembut. Kamu tidak perlu menjadi siapa pun selain dirimu sendiri. Apa yang kamu miliki hari ini mungkin adalah doa orang lain. Jaga dirimu baik-baik, dan jangan lupa beristirahat dari dunia jika sudah terlalu bising.
Jika kamu ingin berbagi cerita atau pemikiran setelah membaca tulisan ini,
aku akan senang membacanya di kolom komentar.
Dan jika kamu ingin mengikuti perjalanan tulisanku selanjutnya, aku juga berbagi potongan refleksi di Instagram @riff_xlvii dan @serenesoul.xsolunar
Tulisan ini tidak bertujuan menyelesaikan semua masalahmu. Ia hanya ingin menjadi teman duduk sejenak... menemani, bukan menggurui. Jika setelah membacanya kamu masih membawa beban, tidak apa-apa. Ada hal-hal yang memang tidak selesai hanya dengan kata-kata. Serahkan sisanya pada Tuhan, karena ada hal-hal yang lebih tenang jika tidak kita pikul sendirian.
Terima kasih sudah membaca sejauh ini. Semoga kamu selalu diberi ruang untuk bernafas, dan kekuatan untuk tetap memilih dirimu sendiri.