Langsung ke konten utama

Kekosongan ini Membawaku Pada Arti Bertahan

Hai kamu,

Apa kabar hari ini?

Sebenarnya, aku tahu... kadang pertanyaan itu terasa berat, ya? Karena bagaimana bisa menjawab "baik" saat di dalam hati kita terasa kosong? Saat semua yang pernah kita lakukan tiba-tiba terlihat seperti tidak ada artinya?

Aku pernah merasakannya juga. Mungkin, seperti kamu saat ini. Duduk di pojok waktu, menatap ruang yang hening, dan bertanya, "Untuk apa aku selama ini bertahan?"
Dan lebih menyakitkan lagi, ketika kamu merasa semua usahamu tidak berarti.. tidak dihargai.. tidak membawa dampak apa-apa.

Tapi izinkan aku mengajakmu berhenti sejenak. Tarik napas. Tahan. Hembuskan perlahan.
Sekarang coba rasakan... kamu masih disini. Kamu masih hidup. Kamu masih membaca ini. Dan itu tidak sia-sia.

Kamu sudah sejauh ini... bukan karena kamu lemah. Tapi karena kamu kuat. Kamu mungkin tidak menyadarinya, tapi setiap langkah kecilmu, bangun pagi meski malas, tetap berangkat meski ingin menyerah, menyapa orang meski hatimu sepi, semuanya adalah bukti kekuatan. 
Aku tahu rasanya ingin menyerah, menyapa orang meski hatimu sepi, semuanya adalah bukti kekuatan.

Aku tahu rasanya ingin menyerah pada semua. Tapi pernahkah kamu memberi waktu untuk benar-benar mendengarkan diri kamu sendiri?
Kalau kamu juga merasa semua ini tidak berarti, aku ingin kamu tahu kamu bukan satu-satunya, kamu tidak sendirian, kamu masih bisa mulai lagi, kapan pun kamu siap, hidup sekosong apa pun rasanya, tetap punya arti.

Kita semua punya waktu saat merasa kosong. Tapi bukan berarti kita kosong selamanya. Kadang, ruang yang kosong justru menjadi tempat terbaik untuk menanam ulang harapan baru.

Hari ini, kamu mungkin merasa kosong. Tapi mungkin... itu ruang yang disiapkan semesta agar kamu bisa mengisi diri kamu dengan yang benar-benar kamu butuhkan, cinta, pemahaman, dan keberanian untuk memulai lagi.

Kalalu kamu sedang melewati hari yang berat, aku ingin kamu tahu. Aku di sini. Dan aku percaya.. kamu bisa.

Boleh cerita ke aku. kalau kamu mau. Atau, cukup peluk diri sendiri malam ini, dan bisikan. "Terima kasih ya, sudah bertahan sampai sejauh ini. Aku tahu lelah. Tapi kamu luar biasa. Aku bangga pada kamu."

Bagaiaman rasanya ?

Aneh? Hampa? Atau justru.. ada sedikit hangat yang muncul?

"Dear diri sendiri, apa yang sebenarnya kamu rasakan saat ini?"
"Apa yang selama ini kamu butuhkan tapi terus kamu abaikan?"
"Apa yang membuat kamu terus merasa tidak cukup?"

Kamu tidak perlu menemukan semua jawaban sekarang. Tapi kamu boleh memeluk pertanyaan-pertanyaan itu. Kamu boleh jujur, menangis, marah, atau bahkan diam. Karena semua emosi itu valid. Kamu valid.

Terima kasih telah membaca sampai akhir. Semoga tulisan ini bisa menemani hati kamu yang mungkin juga sedang belajar pulih. Pelan-pelan saja. Tidak apa-apa jika belum sepenuhnya baik-baik saja. 

Yang penting kamu tetap memilih untuk bertahan.

Sampai bertemu di tulisan berikutnya.
Dari aku, 
yang juga sedang belajar mencintai dirinya sendiri.

(^^*)))

 

Aku berharap tulisan ini bukan hanya sekedar bagian dari blog, namun bisa memberikan refleksi sekaligus harapan untuk kamu yang masih terjebak dalam kebencian bahkan kekecewaan pada diri kamu sendiri. 

Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan ini. Jika ada bagian yang terasa dekat denganmu, mungkin itu karena kita sedang belajar hal yang sama... mencintai diri sendiri dengan cara yang lebih lembut. Kamu tidak perlu menjadi siapa pun selain dirimu sendiri. Apa yang kamu miliki hari ini mungkin adalah doa orang lain. Jaga dirimu baik-baik, dan jangan lupa beristirahat dari dunia jika sudah terlalu bising.

Jika kamu ingin berbagi cerita atau pemikiran setelah membaca tulisan ini,
aku akan senang membacanya di kolom komentar.

Dan jika kamu ingin mengikuti perjalanan tulisanku selanjutnya, aku juga berbagi potongan refleksi di Instagram @riff_xlvii dan @serenesoul.xsolunar

Tulisan ini tidak bertujuan menyelesaikan semua masalahmu. Ia hanya ingin menjadi teman duduk sejenak... menemani, bukan menggurui. Jika setelah membacanya kamu masih membawa beban, tidak apa-apa. Ada hal-hal yang memang tidak selesai hanya dengan kata-kata. Serahkan sisanya pada Tuhan, karena ada hal-hal yang lebih tenang jika tidak kita pikul sendirian. 

Terima kasih sudah membaca sejauh ini. Semoga kamu selalu diberi ruang untuk bernafas, dan kekuatan untuk tetap memilih dirimu sendiri.


Postingan populer dari blog ini

Me, Insecure?

Hai kamu, terima kasih ya sudah hadir di sini... Tulisan ini pertama kali aku buat di tahun 2022, di masa aku sering mempertanyakan diriku sendiri. Saat itu, aku belum sepenuhnya mengerti bahwa rasa insecure bukan sesuatu yang harus dilawan mati-matian, tapi dipahami dengan perlahan. Hari ini, aku membacanya kembali... dan menyadari bahwa tulisanku dulu bukan tentang kelemahan, melainkan tentang keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Karena itu, aku mengunggah ulang tulisan ini. Bukan karena aku masih berada di titik yang sama, tapi karena aku tahu.... banyak dari kita masih berjalan di jalan yang serupa. 🌙 Kali ini, aku ingin mengajakmu membicarakan satu perasaan yang mungkin tidak asing...  insecure . Perasaan yang sering datang diam-diam, tapi mampu membuat kita mempertanyakan hampir semua hal tentang diri sendiri. Aku mengatakan ini karena aku pernah mengalaminya. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Dan mungkin, sampai sekarang pun, rasa itu masih sesekali muncul... h...

Cahaya Pertama yang Kutemukan Setelah Gelap Panjang

Hai kamu, terima kasih ya sudah hadir di sini.... Ada masa dalam hidupku ketika hari-hari terasa berjalan tanpa bentuk. Rasanya seperti bangun setiap pagi hanya untuk mengulang pola yang sama, tanpa mengetahui apa yang sebenarnya ingin aku raih atau ke mana aku harus melangkah. Gelapnya bukan seperti malam... lebih seperti kabut tebal yang menutup jarak pandang. Aku ada, tapi tidak benar-benar hidup. Aku melihat, tapi tidak benar-benar memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam diriku. Aku terbiasa menutupi semuanya dengan alasan-alasan sederhana "Aku hanya lelah," atau "Ini hanya fase,"  atau "Nanti juga baik-baik saja." Tapi lama-kelamaan, aku tahu bahwa itu bukan sekedar kelelahan. Ada sesuatu dalam diri yang menjerit minta diperhatikan, tapi aku terlalu sibuk menjadi kuat sehingga tidak pernah benar-benar mendengarnya. Gelap panjang itu bukan tiba-tiba datang. Ia tumbuh pelan, seperti bayangan yang semakin menutupi ruang, sampai aku tidak sadar kalau a...

Rumah yang Kusediakan untuk Setiap Versi Dalam Diriku

Hai kamu, terima kasih ya sudah hadir di sini.... Pernahkah kamu merasa bahwa diri kamu terdiri dari banyak versi? Ada yang ceria, ada yang rapuh, ada yang penuh harapan, dan ada pula yang masih menyimpan luka lama. Dan anehnya, semuanya hidup di dalam diri kita pada waktu yang sama, saling bertabrakan, saling berbisik, saling menuntut ruang. Akhir-akhir ini aku mulai menyadari bahwa perjalanan mencintai diri sendiri bukan tentang memilih versi mana yang paling indah atau paling kuat. Tapi tentang menyediakan rumah bagi semuanya, yang aku sukai, yang aku benci, yang membuatku bangga, dan yang membuatkuku ingin bersembunyi. Karena pada akhirnyam aku tidak bisa membangun diri yang utuh dengan menolak bagian-bagian tertentu dari diriku. Dulu aku sering merasa harus menampilkan diri yang "baik-baik saja". Aku menutup pintu untuk versi diriku yang lelah, marah, atau bingung, seolah mereka akan merusak citra yang coba kutampilkan. Tapi semakin lama, semkain terasa bahwa menolak bag...