Langsung ke konten utama

Tentang Aku dan Rindu. Yang Diam,Tapi Menyembuhkan

Hai kamu, terima kasih ya sudah klik blog ini...

Pernahkah tiba-tiba kamu merasa rindu.. tapi kamu sendiri tidak yakin, rindu pada siapa?

Aku pernah. Dan mungkin-sedikit banyak, kamu juga?

Bukan rindu yang besar. bukan juga rindu yang menyakitkan. Tapi rindu yang tenang. Diam. Lembut.

Seperti suara pelan yang datang di malam hari saat semuanya sudah tertidur. Yang tidak meminita jawaban, namun meminta didengarkan.

"Kamu masih nunggu, ya?"

Aku mendengarkan sebuah lagu sambil memejamkan mata. Ada perasaan asing namun akrab yang tiba-tiba muncul. Rasanya seperti.. rindu. Tapi bukan rindu yang meminta untuk dipenuhi. Ini rindu yang tahu diri-yang cukup bahagia hanya dengan mengingat.

Di balik irama yang pelan dan lirik yang sederhana, aku menemukan diriku sendiri. Aku yang ternyata masih diam-diam menunggu, tapi juga diam-diam belajar menerima.

Lucu ya, ternyata aku bisa merindunkan sesuatu yang bahkan tidak pernah benar-benar aku miliki.

Tapi anehnya, rindu yang tidak disebutkan itu malah membuatku mendengar diriku sendiri lebih jelas.

Mungkin selama ini aku terlalu sering mencintai dalam diam. Tapi ternyata, dari diam itulah aku belajar mendengarkan diriku lebih utuh. Bahwa cinta tidak selalu harus dimiliki untuk bisa terasa. Dan rindu, tidak selalu harus sampai untuk bisa menghangatkan hati.

Aku mulai sadar: aku ingin menjadi satu-satunya untuk diriku sendiri. Bukan karena menutup pintu pada siapa pun, tapi karena aku ingin mencintai tanpa kehilangan arah. 

Aku ingin, ketika seseorang datang dan pergi dari hidupku, aku tidak lagi runtuh. Aku ingin berdiri utuh meski hanya ditemani oleh detak jantungku sendiri.

Dan jika suatu saat aku bertemu lagi dengan rasa itu-yang lembut, yang tak pernah disebutkan, yang diam-diam aku rindukan-aku harap aku sudah cukup kuat untuk tidak tenggelam di dalamnya.

Mungkin ini bukan tentang dia.

Mungkin ini tentang kamu-yang selama ini diam-diam bertahan. Yang mencoba terlihat baik-baik saja. Yang selalu jadi penyemangat untuk orang lain, tapi jarang bertanya: "Apa aku baik-baik saja hari ini?"

Sekarang aku tahu, rindu bukan hanya tentang siapa, tapi tentang bagaimana aku belajar memahami hatiku sendiri.

Dan kalau aku memang satu-satunya yang selalu ada untuk diriku... maka aku harus menjaganya. Dengan lebih lembut. Lebih sabar. Lebih Jujur.

Kamu juga ya. 

Kalau hari ini hatimu terasa sesak karena sesuatu yang tidak bisa kamu ceritakan-aku harap kamu bersedia duduk sebentar sengan diri kamu sendiri. 

Dengarkan. Peluk. Maafkan.

Karena dari yang diam itu...kadang justru kekuatan paling dalam.

Terima kasih telah membaca sampai akhir. Semoga tulisan ini bisa menemani hati kamu yang mungkin juga sedang belajar pulih. Pelan-pelan saja. Tidak apa-apa jika belum sepenuhnya baik-baik saja. 

Yang penting kamu tetap memilih untuk bertahan.

Sampai bertemu di tulisan berikutnya.
Dari aku, 
yang juga sedang belajar mencintai dirinya sendiri.

(^^*)))

 

Aku berharap tulisan ini bukan hanya sekedar bagian dari blog, namun bisa memberikan refleksi sekaligus harapan untuk kamu yang masih terjebak dalam kebencian bahkan kekecewaan pada diri kamu sendiri. 

Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan ini. Jika ada bagian yang terasa dekat denganmu, mungkin itu karena kita sedang belajar hal yang sama... mencintai diri sendiri dengan cara yang lebih lembut. Kamu tidak perlu menjadi siapa pun selain dirimu sendiri. Apa yang kamu miliki hari ini mungkin adalah doa orang lain. Jaga dirimu baik-baik, dan jangan lupa beristirahat dari dunia jika sudah terlalu bising.

Jika kamu ingin berbagi cerita atau pemikiran setelah membaca tulisan ini,
aku akan senang membacanya di kolom komentar.

Dan jika kamu ingin mengikuti perjalanan tulisanku selanjutnya, aku juga berbagi potongan refleksi di Instagram @riff_xlvii dan @serenesoul.xsolunar

Tulisan ini tidak bertujuan menyelesaikan semua masalahmu. Ia hanya ingin menjadi teman duduk sejenak... menemani, bukan menggurui. Jika setelah membacanya kamu masih membawa beban, tidak apa-apa. Ada hal-hal yang memang tidak selesai hanya dengan kata-kata. Serahkan sisanya pada Tuhan, karena ada hal-hal yang lebih tenang jika tidak kita pikul sendirian. 

Terima kasih sudah membaca sejauh ini. Semoga kamu selalu diberi ruang untuk bernafas, dan kekuatan untuk tetap memilih dirimu sendiri.


Postingan populer dari blog ini

Me, Insecure?

Hai kamu, terima kasih ya sudah hadir di sini... Tulisan ini pertama kali aku buat di tahun 2022, di masa aku sering mempertanyakan diriku sendiri. Saat itu, aku belum sepenuhnya mengerti bahwa rasa insecure bukan sesuatu yang harus dilawan mati-matian, tapi dipahami dengan perlahan. Hari ini, aku membacanya kembali... dan menyadari bahwa tulisanku dulu bukan tentang kelemahan, melainkan tentang keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Karena itu, aku mengunggah ulang tulisan ini. Bukan karena aku masih berada di titik yang sama, tapi karena aku tahu.... banyak dari kita masih berjalan di jalan yang serupa. 🌙 Kali ini, aku ingin mengajakmu membicarakan satu perasaan yang mungkin tidak asing...  insecure . Perasaan yang sering datang diam-diam, tapi mampu membuat kita mempertanyakan hampir semua hal tentang diri sendiri. Aku mengatakan ini karena aku pernah mengalaminya. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Dan mungkin, sampai sekarang pun, rasa itu masih sesekali muncul... h...

Cahaya Pertama yang Kutemukan Setelah Gelap Panjang

Hai kamu, terima kasih ya sudah hadir di sini.... Ada masa dalam hidupku ketika hari-hari terasa berjalan tanpa bentuk. Rasanya seperti bangun setiap pagi hanya untuk mengulang pola yang sama, tanpa mengetahui apa yang sebenarnya ingin aku raih atau ke mana aku harus melangkah. Gelapnya bukan seperti malam... lebih seperti kabut tebal yang menutup jarak pandang. Aku ada, tapi tidak benar-benar hidup. Aku melihat, tapi tidak benar-benar memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam diriku. Aku terbiasa menutupi semuanya dengan alasan-alasan sederhana "Aku hanya lelah," atau "Ini hanya fase,"  atau "Nanti juga baik-baik saja." Tapi lama-kelamaan, aku tahu bahwa itu bukan sekedar kelelahan. Ada sesuatu dalam diri yang menjerit minta diperhatikan, tapi aku terlalu sibuk menjadi kuat sehingga tidak pernah benar-benar mendengarnya. Gelap panjang itu bukan tiba-tiba datang. Ia tumbuh pelan, seperti bayangan yang semakin menutupi ruang, sampai aku tidak sadar kalau a...

Rumah yang Kusediakan untuk Setiap Versi Dalam Diriku

Hai kamu, terima kasih ya sudah hadir di sini.... Pernahkah kamu merasa bahwa diri kamu terdiri dari banyak versi? Ada yang ceria, ada yang rapuh, ada yang penuh harapan, dan ada pula yang masih menyimpan luka lama. Dan anehnya, semuanya hidup di dalam diri kita pada waktu yang sama, saling bertabrakan, saling berbisik, saling menuntut ruang. Akhir-akhir ini aku mulai menyadari bahwa perjalanan mencintai diri sendiri bukan tentang memilih versi mana yang paling indah atau paling kuat. Tapi tentang menyediakan rumah bagi semuanya, yang aku sukai, yang aku benci, yang membuatku bangga, dan yang membuatkuku ingin bersembunyi. Karena pada akhirnyam aku tidak bisa membangun diri yang utuh dengan menolak bagian-bagian tertentu dari diriku. Dulu aku sering merasa harus menampilkan diri yang "baik-baik saja". Aku menutup pintu untuk versi diriku yang lelah, marah, atau bingung, seolah mereka akan merusak citra yang coba kutampilkan. Tapi semakin lama, semkain terasa bahwa menolak bag...