Ada waktu dalam hidupku ketika aku merasa semua orang bergerak lebih cepat dariku. Orang-orang terlihat mudah melepaskan, mudah memulai hal baru, mudah tertawa kembali. sementara aku masih diam di tempat yang sama, mencoba merapikan sesuatu yang terasa beratakan di dalam diriku.
Awalnya, aku merasa sebuah kelemahan. Aku berpikir, mungkin aku terlalu sensitif. Terlalu lambat. Terlalu berlarut-larut.
Namun perlahan, aku mulai sadar bahwa tidak semua proses harus dilakukan dengan tergesa.
Ada luka yang memang tidak bisa sembuh dalam satu amlam. Ada emosi yang tidak bisa langsung dilepaskan begitu saja. Kadang, untuk memahami apa ynag sebenarnya kita rasakan, kita perlu berhenti sebentar. Menepuk prlan diri sendiri, lalu mengakui, "Aku masih terluka. Aku masih butuh waktu."
Pada titik itulah aku mulai melihat diriku dengan lebih lembut. Aku mulai memahamai bahwa keberanianku bukan terlihat dari seberapa cepat aku pulih, tapi dari kesdiaanku untuk tetap bertahan, meski yang aku rasakan tidak selalu nyaman.
Sembuh bukan perlombaan.
Tidak ada hadiah perjalanan pulang pada diri sendiri, dan setiap orang memiliki waktunya masing-masing.
Karena sekarang aku tahu, aku tidak perlu cepat-cepat baik-baik saja. Aku hanya perlu tetap hadir untuk diriku, setiap hari, sedikit demi sedikit.
Coba kamu lakukan hal ini sebentar saja, tidak perlu lama,
Jawabannya tidak harus besar.
Bisa saja, istirahat, duduk sebentar, minum air, atau membiarkan diri menangis tanpa lasan.
Semua itu juga bagian dari sembuh.
Hari ini aku memilih untuk tidak terburu-buru.
Aku memilih tidak memaksa diriku melupakan sesuatu yang masih ingin aku pahami. Aku memilih untuk merawat diriku dalam tempo yang paling manusiawi.
Aku sembuh tanpa tergesa.
Dan itu cukup.
Kamu juga boleh begitu.
Terima kasih telah membaca sampai akhir. Semoga tulisan ini bisa menemani hati kamu yang mungkin juga sedang belajar pulih. Pelan-pelan saja. Tidak apa-apa jika belum sepenuhnya baik-baik saja.
Yang penting kamu tetap memilih untuk bertahan.
Sampai bertemu di tulisan berikutnya.
Dari aku,
yang juga sedang belajar mencintai dirinya sendiri.
ヾ(^▽^*)))
Aku berharap tulisan ini bukan hanya sekedar bagian dari blog, namun bisa memberikan refleksi sekaligus harapan untuk kamu yang masih terjebak dalam kebencian bahkan kekecewaan pada diri kamu sendiri.
Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan ini. Jika ada bagian yang terasa dekat denganmu, mungkin itu karena kita sedang belajar hal yang sama... mencintai diri sendiri dengan cara yang lebih lembut. Kamu tidak perlu menjadi siapa pun selain dirimu sendiri. Apa yang kamu miliki hari ini mungkin adalah doa orang lain. Jaga dirimu baik-baik, dan jangan lupa beristirahat dari dunia jika sudah terlalu bising.
Jika kamu ingin berbagi cerita atau pemikiran setelah membaca tulisan ini,
aku akan senang membacanya di kolom komentar.
Dan jika kamu ingin mengikuti perjalanan tulisanku selanjutnya, aku juga berbagi potongan refleksi di Instagram @riff_xlvii dan @serenesoul.xsolunar
Tulisan ini tidak bertujuan menyelesaikan semua masalahmu. Ia hanya ingin menjadi teman duduk sejenak... menemani, bukan menggurui. Jika setelah membacanya kamu masih membawa beban, tidak apa-apa. Ada hal-hal yang memang tidak selesai hanya dengan kata-kata. Serahkan sisanya pada Tuhan, karena ada hal-hal yang lebih tenang jika tidak kita pikul sendirian.
Terima kasih sudah membaca sejauh ini. Semoga kamu selalu diberi ruang untuk bernafas, dan kekuatan untuk tetap memilih dirimu sendiri.