Langsung ke konten utama

Menyusun Ulang Caraku Mencintai Diriku Sendiri

 Hai kamu, terima kasih ya sudah klik blog ini....

Ada masa ketika aku menyadari bahwa caraku mencintai diriku selama ini terasa... salah arah. Ada yang terasa terlalu keras, terlalu menuntut, terlalu ingin cepat sembuh. Seolah-olah aku hanya mencintai diriku apabila aku bisa menjadi versi yang baik, rapi, dan tidak merepotkan siapa pun.

Tetapi ternyata, mencintai diri sendiri tidak sesederhana memberi kata-kata manis atau menulis afirmasi harian. Ada yang lebih dalam dari itu... yaitu keberanian untuk mengakui bahwa aku pernah memperlakukan diriku sendiri dengan cara yang tidak layak ia terima.

Hari-hari ini, aku sedang menyusun ulang semuanya. Mungkin kamu juga sedang mencoba hal yang sama.

Dulu, aku sering menegur diriku dengan kalimat-kalimat yang sebenarnya tidak pantas diterima siapa pun, "harusnya kamu lebih kuat", "kok kamu gagal lagi?", "orang lain saja bisa, kenapa kamu tidak?"

Dan lucunya, aku menganggap itu motivasi.

Sekarang aku mencoba cara baru.

Aku ingin belajar menggunakan kalimat yang mengangkatku, bukan yang membuatku merasa kecil. Kalimat yang mengingatkanku bahwa aku berproses, bukan tertinggal.

Meski kadang masih kalah oleh suara lamaku, aku pelan-pelan belajar untuk tidak mempersalahkan diri setiap kali aku jatuh.

Selama ini, aku membiasakan diri untuk kuat. Terlalu kuat. Sampai lupa bahwa meangis juga termasuk bagian dari bertahan. Kini, aku ingin memberikan ruang untuk setiap marah tanpa takut terlihat lemah, setiap sedih tanpa merasa drama, setiap lelah tanpa memaksakan tersenyum.

Aku memberi diriku izin. Karena mencintai diri berhenti menerima semua perasaanku, bukan hanya yang nyaman.

Ada bagian-bagian dalam diriku yang dulu pernah patah, dan selam bertahun-tahun aku memusuhi mereka. Aku ingin mereka hilang, padahal disanalah aku paling membutuhkan kasih. 

Aku belajar mengulurkan tangan pada versi lamaku... yang ketakutan, yang keliru, yang banyak salah. Bukan untuk kembali ke masa lalu, tetapi untuk menenangkan bagian dalam diriku yang masih menungggu dipeluk.

Aku tidak perlu membenarkan yang terjadi. Aku hanya perlu mengakui bahwa aku tidak tahu cara yang lebih baik pada saat itu.

Dan itu cukup.

Dulu aku sering memaksa bertahan di tempat-tempat yang melelahkan, hanya karena aku takut terlihat egois bila memilih diriku. Sekarang aku mencoba meletakkan diriku di ruang yang tidak membuatku berkecil hati setiap hari. 

Ternyata mencintai diri juga berarti memilih jarak, memilih kata, memilik lingkungan.... meski pilihan itu sulit.

Ternyata mencintai diri butuh keberanian, bukan hanya kelembutan.

Akhirnya, aku menyadari...

Self-love bukan perjalanan sekali selesai.

Ia bukan pencapaian, tapi cara hidup yang terus berubah seiring aku memahami diriku lebih dalam.

Aku sedang menyusun ulang semuanya.

Cara berpikirku, cara aku memandang diriku, cara aku memeluk kesalahanku, cara aku merawat bagian-bagian yang ingin tumbuh.

Dan mungkin jika kamu membaca ini, kamu juga sedang menyusun ulang cara kemau mencintai diri sendiri.

Kalau begitu... kita sedang berjalan bersama.

Perlahan, tapi pasti.

Dan itu sudah cukup.

Terima kasih telah membaca sampai akhir. Semoga tulisan ini bisa menemani hati kamu yang mungkin juga sedang belajar pulih. Pelan-pelan saja. Tidak apa-apa jika belum sepenuhnya baik-baik saja. 

Yang penting kamu tetap memilih untuk bertahan.

Sampai bertemu di tulisan berikutnya.
Dari aku, 
yang juga sedang belajar mencintai dirinya sendiri.

(^^*)))

 

Aku berharap tulisan ini bukan hanya sekedar bagian dari blog, namun bisa memberikan refleksi sekaligus harapan untuk kamu yang masih terjebak dalam kebencian bahkan kekecewaan pada diri kamu sendiri. 

Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan ini. Jika ada bagian yang terasa dekat denganmu, mungkin itu karena kita sedang belajar hal yang sama... mencintai diri sendiri dengan cara yang lebih lembut. Kamu tidak perlu menjadi siapa pun selain dirimu sendiri. Apa yang kamu miliki hari ini mungkin adalah doa orang lain. Jaga dirimu baik-baik, dan jangan lupa beristirahat dari dunia jika sudah terlalu bising.

Jika kamu ingin berbagi cerita atau pemikiran setelah membaca tulisan ini,
aku akan senang membacanya di kolom komentar.

Dan jika kamu ingin mengikuti perjalanan tulisanku selanjutnya, aku juga berbagi potongan refleksi di Instagram @riff_xlvii dan @serenesoul.xsolunar

Tulisan ini tidak bertujuan menyelesaikan semua masalahmu. Ia hanya ingin menjadi teman duduk sejenak... menemani, bukan menggurui. Jika setelah membacanya kamu masih membawa beban, tidak apa-apa. Ada hal-hal yang memang tidak selesai hanya dengan kata-kata. Serahkan sisanya pada Tuhan, karena ada hal-hal yang lebih tenang jika tidak kita pikul sendirian. 

Terima kasih sudah membaca sejauh ini. Semoga kamu selalu diberi ruang untuk bernafas, dan kekuatan untuk tetap memilih dirimu sendiri.


Postingan populer dari blog ini

Me, Insecure?

Hai kamu, terima kasih ya sudah hadir di sini... Tulisan ini pertama kali aku buat di tahun 2022, di masa aku sering mempertanyakan diriku sendiri. Saat itu, aku belum sepenuhnya mengerti bahwa rasa insecure bukan sesuatu yang harus dilawan mati-matian, tapi dipahami dengan perlahan. Hari ini, aku membacanya kembali... dan menyadari bahwa tulisanku dulu bukan tentang kelemahan, melainkan tentang keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Karena itu, aku mengunggah ulang tulisan ini. Bukan karena aku masih berada di titik yang sama, tapi karena aku tahu.... banyak dari kita masih berjalan di jalan yang serupa. 🌙 Kali ini, aku ingin mengajakmu membicarakan satu perasaan yang mungkin tidak asing...  insecure . Perasaan yang sering datang diam-diam, tapi mampu membuat kita mempertanyakan hampir semua hal tentang diri sendiri. Aku mengatakan ini karena aku pernah mengalaminya. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Dan mungkin, sampai sekarang pun, rasa itu masih sesekali muncul... h...

Cahaya Pertama yang Kutemukan Setelah Gelap Panjang

Hai kamu, terima kasih ya sudah hadir di sini.... Ada masa dalam hidupku ketika hari-hari terasa berjalan tanpa bentuk. Rasanya seperti bangun setiap pagi hanya untuk mengulang pola yang sama, tanpa mengetahui apa yang sebenarnya ingin aku raih atau ke mana aku harus melangkah. Gelapnya bukan seperti malam... lebih seperti kabut tebal yang menutup jarak pandang. Aku ada, tapi tidak benar-benar hidup. Aku melihat, tapi tidak benar-benar memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam diriku. Aku terbiasa menutupi semuanya dengan alasan-alasan sederhana "Aku hanya lelah," atau "Ini hanya fase,"  atau "Nanti juga baik-baik saja." Tapi lama-kelamaan, aku tahu bahwa itu bukan sekedar kelelahan. Ada sesuatu dalam diri yang menjerit minta diperhatikan, tapi aku terlalu sibuk menjadi kuat sehingga tidak pernah benar-benar mendengarnya. Gelap panjang itu bukan tiba-tiba datang. Ia tumbuh pelan, seperti bayangan yang semakin menutupi ruang, sampai aku tidak sadar kalau a...

Rumah yang Kusediakan untuk Setiap Versi Dalam Diriku

Hai kamu, terima kasih ya sudah hadir di sini.... Pernahkah kamu merasa bahwa diri kamu terdiri dari banyak versi? Ada yang ceria, ada yang rapuh, ada yang penuh harapan, dan ada pula yang masih menyimpan luka lama. Dan anehnya, semuanya hidup di dalam diri kita pada waktu yang sama, saling bertabrakan, saling berbisik, saling menuntut ruang. Akhir-akhir ini aku mulai menyadari bahwa perjalanan mencintai diri sendiri bukan tentang memilih versi mana yang paling indah atau paling kuat. Tapi tentang menyediakan rumah bagi semuanya, yang aku sukai, yang aku benci, yang membuatku bangga, dan yang membuatkuku ingin bersembunyi. Karena pada akhirnyam aku tidak bisa membangun diri yang utuh dengan menolak bagian-bagian tertentu dari diriku. Dulu aku sering merasa harus menampilkan diri yang "baik-baik saja". Aku menutup pintu untuk versi diriku yang lelah, marah, atau bingung, seolah mereka akan merusak citra yang coba kutampilkan. Tapi semakin lama, semkain terasa bahwa menolak bag...