Langsung ke konten utama

Yang Pergi, Memang Bukan Milikmu

Hai kamu, terima kasih ya sudah hadir di sini...

Ada masa di mana kita mengejar sesuatu begitu jauh, seolah-olah hidup kita bergantung pada itu. Kita berusaha, berdoa, menunggu, bahkan memaksa diri untuk tetap bertahan, karena kita percaya bahwa jika kita cukup kuat dan cukup sabar, semuanya akan menjadi milik kita. Tapi di tengah perjalanan itu, sering kali kita lupa satu hal sederhana... tidak semua yang kita inginkan, memang ditakdirkan untuk kita.

Pernah tidak kamu merasa sudah melakukan segalanya dengan baik, tapi hasilnya tetap tidak sesuai harapan? Atau mungkin, sesuatu itu sudah hampir kamu genggam, sudah terasa dekat, tapi pada akhirnya tetap pergi begitu saja. Rasanya pasti mengecewakan, seperti ada ruang kosong yang tiba-tiba terbuka di dalam hati. Kamu mulai bertanya dalam diam, mencoba memahami, bahkan mungkin menyalahkan diri sendiri, seolah-olah semua itu terjadi karena kamu kurang berusaha atau belum cukup baik.

Padahal, tidak selalu seperti itu. Ada hal-hal dalam hidup yang memang tidak bisa kita paksa untuk tinggal, sekeras apa pun kita mencoba mempertahankannya. Bukan karena kita tidak pantas, tapi karena memang bukan itu yang ditulis untuk kita. Dan sebaliknya, ada hal-hal yang bahkan tanpa kita kejar terlalu jauh, perlahan akan menemukan jalannya sendiri untuk sampai kepada kita, seolah-olah sudah tahu ke mana harus pulang sejak awal.

Di tengah semua kebingungan itu, ada satu kalimat yang mungkin perlu kamu dengar pelan-pelan…

Apa yang ditakdirkan untukmu, meskipun berada di bawah gunung, pasti akan sampai kepadamu. Dan apa yang tidak ditakdirkan untukmu, meskipun berada begitu dekat, tidak akan pernah benar-benar menjadi milikmu.

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tapi jika kamu benar-benar memahaminya, ada ketenangan yang perlahan tumbuh. Seolah-olah ada sesuatu yang selama ini kamu genggam terlalu erat… mulai kamu lepaskan sedikit demi sedikit.

Ketika kita mulai memahami itu, perlahan ada rasa tenang yang tumbuh, meskipun kecil. Kita tidak lagi menggenggam semuanya terlalu erat, tidak lagi merasa harus mengendalikan setiap hal yang terjadi. Kita belajar menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana kita, dan itu bukan berarti kita gagal. Kadang, justru di situlah kita sedang dijaga dari sesuatu yang bukan untuk kita, dan diarahkan menuju sesuatu yang lebih tepat, meskipun kita belum bisa melihatnya sekarang.

Bayangkan jika sesuatu itu memang ditakdirkan untukmu. Sejauh apa pun ia berada, sesulit apa pun jalannya, ia akan tetap menemukan cara untuk sampai. Tidak akan tertukar, tidak akan terlambat, dan tidak akan melewatkanmu. Dan jika sesuatu itu bukan untukmu, sedekat apa pun ia sekarang, sekuat apa pun kamu mencoba menahannya, ia tetap akan pergi pada waktunya. Bukan karena kamu kurang berharga, tapi karena memang bukan tempatmu untuk tinggal.

Jadi, kalau hari ini kamu sedang lelah karena terus mengejar sesuatu yang tidak kunjung datang, mungkin ini saatnya berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, tapi untuk memberi ruang pada takdir bekerja dengan caranya sendiri. Kamu tidak harus kehilangan harapan, kamu hanya perlu belajar mempercayai bahwa apa yang memang untukmu, tidak akan pernah benar-benar pergi, dan apa yang pergi, mungkin sedang membuka jalan untuk sesuatu yang lebih baik datang kepadamu.

Pelan-pelan saja… kamu tidak sedang tertinggal. Kamu hanya sedang berada di jalan yang mungkin belum sepenuhnya kamu pahami, tapi tetap mengarah ke tempat yang seharusnya. Dan pada akhirnya, kamu akan mengerti bahwa tidak semua yang pergi adalah kehilangan, dan tidak semua yang datang adalah kebetulan. Ada hal-hal yang memang sudah ditulis untukmu, dan ketika waktunya tiba, semuanya akan menemukan jalannya sendiri untuk sampai.

Dan mungkin, bagian yang paling sulit bukanlah saat sesuatu itu pergi, tapi saat kita harus benar-benar menerima bahwa ia tidak akan kembali dengan cara yang kita harapkan. Ada jeda yang tidak nyaman, ada ruang kosong yang belum terisi, dan ada perasaan asing yang membuat kita ingin kembali ke hal yang sudah jelas-jelas tidak bisa kita miliki. Tapi justru di sanalah kita belajar sesuatu yang tidak bisa diajarkan oleh siapa pun—belajar merelakan tanpa harus membenci, belajar melepaskan tanpa harus kehilangan diri sendiri, dan belajar memahami bahwa tidak semua yang kita cintai harus kita miliki untuk bisa tetap berarti.

Seiring waktu, tanpa kita sadari, hati kita akan menemukan caranya sendiri untuk tenang. Tidak dengan cara yang instan, tidak juga dengan cara yang selalu mudah, tapi dengan proses yang pelan dan jujur. Kita mulai melihat hidup dari sudut yang berbeda, tidak lagi sebagai sesuatu yang harus kita kendalikan sepenuhnya, tapi sebagai perjalanan yang bisa kita jalani dengan lebih ringan. Dan di titik itu, kita akan mengerti bahwa apa yang memang ditakdirkan untuk kita tidak pernah benar-benar menjauh—ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk hadir, di saat kita sudah cukup siap untuk menerimanya tanpa rasa takut kehilangan lagi.

Terima kasih telah membaca sampai akhir. Semoga tulisan ini bisa menemani hati kamu yang mungkin juga sedang belajar pulih. Pelan-pelan saja. Tidak apa-apa jika belum sepenuhnya baik-baik saja. 

Yang penting kamu tetap memilih untuk bertahan.

Sampai bertemu di tulisan berikutnya.
Dari aku, 
yang juga sedang belajar mencintai dirinya sendiri.

(^^*)))

 

Aku berharap tulisan ini bukan hanya sekedar bagian dari blog, namun bisa memberikan refleksi sekaligus harapan untuk kamu yang masih terjebak dalam kebencian bahkan kekecewaan pada diri kamu sendiri. 

Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan ini. Jika ada bagian yang terasa dekat denganmu, mungkin itu karena kita sedang belajar hal yang sama... mencintai diri sendiri dengan cara yang lebih lembut. Kamu tidak perlu menjadi siapa pun selain dirimu sendiri. Apa yang kamu miliki hari ini mungkin adalah doa orang lain. Jaga dirimu baik-baik, dan jangan lupa beristirahat dari dunia jika sudah terlalu bising.

Jika kamu ingin berbagi cerita atau pemikiran setelah membaca tulisan ini,
aku akan senang membacanya di kolom komentar.

Dan jika kamu ingin mengikuti perjalanan tulisanku selanjutnya, aku juga berbagi potongan refleksi di Instagram @riff_xlvii dan @serenesoul.xsolunar

Tulisan ini tidak bertujuan menyelesaikan semua masalahmu. Ia hanya ingin menjadi teman duduk sejenak... menemani, bukan menggurui. Jika setelah membacanya kamu masih membawa beban, tidak apa-apa. Ada hal-hal yang memang tidak selesai hanya dengan kata-kata. Serahkan sisanya pada Tuhan, karena ada hal-hal yang lebih tenang jika tidak kita pikul sendirian. 

Terima kasih sudah membaca sejauh ini. Semoga kamu selalu diberi ruang untuk bernafas, dan kekuatan untuk tetap memilih dirimu sendiri.



Postingan populer dari blog ini

Me, Insecure?

Hai kamu, terima kasih ya sudah hadir di sini... Tulisan ini pertama kali aku buat di tahun 2022, di masa aku sering mempertanyakan diriku sendiri. Saat itu, aku belum sepenuhnya mengerti bahwa rasa insecure bukan sesuatu yang harus dilawan mati-matian, tapi dipahami dengan perlahan. Hari ini, aku membacanya kembali... dan menyadari bahwa tulisanku dulu bukan tentang kelemahan, melainkan tentang keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Karena itu, aku mengunggah ulang tulisan ini. Bukan karena aku masih berada di titik yang sama, tapi karena aku tahu.... banyak dari kita masih berjalan di jalan yang serupa. 🌙 Kali ini, aku ingin mengajakmu membicarakan satu perasaan yang mungkin tidak asing...  insecure . Perasaan yang sering datang diam-diam, tapi mampu membuat kita mempertanyakan hampir semua hal tentang diri sendiri. Aku mengatakan ini karena aku pernah mengalaminya. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Dan mungkin, sampai sekarang pun, rasa itu masih sesekali muncul... h...

Cahaya Pertama yang Kutemukan Setelah Gelap Panjang

Hai kamu, terima kasih ya sudah hadir di sini.... Ada masa dalam hidupku ketika hari-hari terasa berjalan tanpa bentuk. Rasanya seperti bangun setiap pagi hanya untuk mengulang pola yang sama, tanpa mengetahui apa yang sebenarnya ingin aku raih atau ke mana aku harus melangkah. Gelapnya bukan seperti malam... lebih seperti kabut tebal yang menutup jarak pandang. Aku ada, tapi tidak benar-benar hidup. Aku melihat, tapi tidak benar-benar memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam diriku. Aku terbiasa menutupi semuanya dengan alasan-alasan sederhana "Aku hanya lelah," atau "Ini hanya fase,"  atau "Nanti juga baik-baik saja." Tapi lama-kelamaan, aku tahu bahwa itu bukan sekedar kelelahan. Ada sesuatu dalam diri yang menjerit minta diperhatikan, tapi aku terlalu sibuk menjadi kuat sehingga tidak pernah benar-benar mendengarnya. Gelap panjang itu bukan tiba-tiba datang. Ia tumbuh pelan, seperti bayangan yang semakin menutupi ruang, sampai aku tidak sadar kalau a...

Rumah yang Kusediakan untuk Setiap Versi Dalam Diriku

Hai kamu, terima kasih ya sudah hadir di sini.... Pernahkah kamu merasa bahwa diri kamu terdiri dari banyak versi? Ada yang ceria, ada yang rapuh, ada yang penuh harapan, dan ada pula yang masih menyimpan luka lama. Dan anehnya, semuanya hidup di dalam diri kita pada waktu yang sama, saling bertabrakan, saling berbisik, saling menuntut ruang. Akhir-akhir ini aku mulai menyadari bahwa perjalanan mencintai diri sendiri bukan tentang memilih versi mana yang paling indah atau paling kuat. Tapi tentang menyediakan rumah bagi semuanya, yang aku sukai, yang aku benci, yang membuatku bangga, dan yang membuatkuku ingin bersembunyi. Karena pada akhirnyam aku tidak bisa membangun diri yang utuh dengan menolak bagian-bagian tertentu dari diriku. Dulu aku sering merasa harus menampilkan diri yang "baik-baik saja". Aku menutup pintu untuk versi diriku yang lelah, marah, atau bingung, seolah mereka akan merusak citra yang coba kutampilkan. Tapi semakin lama, semkain terasa bahwa menolak bag...