Hai kamu, terima kasih ya sudah klik blog ini...
Pernahkah kamu merindukan seseorang yang sebenarnya tidak pernah benar-benar pergi? Seseorang yang dulu begitu dekat, begitu memahami isi hatimu, tetapi sekarang terasa jauh seolah dipisahkan oleh waktu yang panjang. Mungkin awalnya kamu akan membayangkan seorang sahabat, seseorang yang pernah mengisi hari-harimu, atau seseorang yang pernah menjadi rumah bagi banyak cerita. Namun kali ini, aku ingin mengajakmu memikirkan seseorang yang berbeda. Seseorang yang setiap hari ada bersamamu, melihat setiap tangismu, menemani setiap perjuanganmu, dan tetap bertahan bahkan ketika seluruh dunia terasa berjalan menjauh. Seseorang itu adalah dirimu sendiri.
Entah sejak kapan, banyak dari kita mulai kehilangan kedekatan dengan diri sendiri. Bukan karena kita sengaja meninggalkannya, melainkan karena hidup perlahan-lahan mengajak kita berlari ke terlalu banyak arah. Kita sibuk mengejar masa depan, sibuk memenuhi ekspektasi, sibuk menjadi kuat, sibuk terlihat baik-baik saja, sampai lupa menoleh ke dalam dan bertanya bagaimana kabar hati yang selama ini membawa kita bertahan. Ada begitu banyak hari yang kita lalui hanya untuk menyelesaikan semuanya, sampai akhirnya kita lupa bagaimana rasanya benar-benar hadir untuk diri sendiri. Padahal dulu, mungkin kita pernah menjadi seseorang yang lebih lembut. Seseorang yang tidak terlalu keras saat melakukan kesalahan, yang tidak merasa bersalah ketika beristirahat, yang mampu melihat dirinya dengan lebih penuh kasih daripada sekarang.
Kadang aku bertanya-tanya, ke mana perginya versi diri itu? Versi diri yang dulu bisa menikmati sore tanpa merasa harus produktif. Versi diri yang dulu percaya bahwa dirinya layak dicintai meskipun belum sempurna. Versi diri yang dulu tidak mengukur harga dirinya dari pencapaian, angka, atau pengakuan orang lain. Dan semakin lama aku memikirkannya, semakin aku sadar bahwa mungkin ia tidak pernah benar-benar pergi. Mungkin ia hanya tertinggal di suatu tempat dalam perjalanan panjang yang kita tempuh. Tertinggal di antara hari-hari yang terlalu melelahkan, di antara luka yang belum sempat dipeluk, dan di antara berbagai tuntutan yang membuat kita lupa bahwa diri kita juga membutuhkan perhatian yang sama seperti yang selama ini kita berikan kepada orang lain.
Yang menyedihkan, sering kali kita baru menyadari semua itu ketika hati mulai terasa kosong. Ketika kita berhasil mencapai sesuatu yang dulu sangat kita inginkan, tetapi kebahagiaannya tidak bertahan lama. Ketika kita terus bergerak tanpa benar-benar tahu apa yang sedang kita cari. Ketika kita merasa lelah, tetapi bahkan tidak tahu bagaimana cara beristirahat. Pada saat itulah muncul perasaan yang sulit dijelaskan, seperti merindukan sebuah rumah yang alamatnya masih kita ingat, tetapi sudah lama tidak kita kunjungi. Dan mungkin rumah itu bukan sebuah tempat. Mungkin rumah itu adalah hubungan yang dulu pernah kita miliki dengan diri sendiri.
Jika hari ini kamu merasa sedikit asing dengan dirimu sendiri, aku ingin kamu tahu bahwa tidak ada yang salah denganmu. Bisa jadi kamu hanya terlalu lama berjalan tanpa sempat menggenggam tanganmu sendiri. Bisa jadi kamu terlalu fokus bertahan sampai lupa bagaimana caranya hidup dengan tenang. Bisa jadi kamu terlalu sibuk menjadi segala sesuatu untuk orang lain sampai lupa menjadi seseorang bagi dirimu sendiri. Dan jika memang begitu, mungkin kamu tidak perlu mencari versi diri yang baru. Mungkin kamu tidak perlu berubah menjadi orang yang berbeda. Mungkin yang kamu butuhkan hanyalah kembali. Kembali mendengarkan isi hatimu. Kembali memberi ruang untuk bernapas. Kembali memperlakukan dirimu dengan kelembutan yang selama ini kamu berikan kepada semua orang kecuali dirimu sendiri.
Jadi jika suatu hari nanti kamu menemukan dirimu tersenyum karena hal-hal sederhana, bisa memaafkan kesalahanmu sendiri tanpa terus menghukumnya, bisa beristirahat tanpa merasa bersalah, atau bisa menatap cermin dan melihat dirimu dengan lebih penuh kasih, semoga kamu berhenti sejenak dan menyadari satu hal. Bahwa selama ini kamu tidak sedang mencari seseorang yang hilang. Kamu hanya sedang berjalan pulang untuk bertemu kembali dengan dirimu sendiri. Dan ketika pertemuan itu akhirnya terjadi, semoga kamu menyambutnya dengan hangat, seperti seorang sahabat lama yang akhirnya kembali setelah perjalanan yang sangat panjang.
Sampai bertemu lagi, diriku.
Terima kasih telah membaca sampai akhir. Semoga tulisan ini bisa menemani hati kamu yang mungkin juga sedang belajar pulih. Pelan-pelan saja. Tidak apa-apa jika belum sepenuhnya baik-baik saja.
Yang penting kamu tetap memilih untuk bertahan.
Sampai bertemu di tulisan berikutnya.
Dari aku,
yang juga sedang belajar mencintai dirinya sendiri.
ヾ(^▽^*)))
Aku berharap tulisan ini bukan hanya sekedar bagian dari blog, namun bisa memberikan refleksi sekaligus harapan untuk kamu yang masih terjebak dalam kebencian bahkan kekecewaan pada diri kamu sendiri.
Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan ini. Jika ada bagian yang terasa dekat denganmu, mungkin itu karena kita sedang belajar hal yang sama... mencintai diri sendiri dengan cara yang lebih lembut. Kamu tidak perlu menjadi siapa pun selain dirimu sendiri. Apa yang kamu miliki hari ini mungkin adalah doa orang lain. Jaga dirimu baik-baik, dan jangan lupa beristirahat dari dunia jika sudah terlalu bising.
Jika kamu ingin berbagi cerita atau pemikiran setelah membaca tulisan ini,
aku akan senang membacanya di kolom komentar.
Dan jika kamu ingin mengikuti perjalanan tulisanku selanjutnya, aku juga berbagi potongan refleksi di Instagram @riff_xlvii dan @serenesoul.xsolunar
Tulisan ini tidak bertujuan menyelesaikan semua masalahmu. Ia hanya ingin menjadi teman duduk sejenak... menemani, bukan menggurui. Jika setelah membacanya kamu masih membawa beban, tidak apa-apa. Ada hal-hal yang memang tidak selesai hanya dengan kata-kata. Serahkan sisanya pada Tuhan, karena ada hal-hal yang lebih tenang jika tidak kita pikul sendirian.
Terima kasih sudah membaca sejauh ini. Semoga kamu selalu diberi ruang untuk bernafas, dan kekuatan untuk tetap memilih dirimu sendiri.