Hai kamu, terima kasih ya sudah klik blog ini...
Pernahkah kamu mengingat kembali sebuah ucapan yang sebenarnya sudah terjadi sangat lama? Mungkin kalimat itu diucapkan hanya dalam beberapa detik. Tidak panjang, tidak selalu terdengar seperti sesuatu yang besar, bahkan mungkin orang yang mengucapkannya sudah tidak lagi mengingat apa yang pernah ia katakan. Namun entah mengapa, kalimat itu masih tinggal di dalam kepalamu. Ia muncul kembali ketika kamu sedang sendirian, ketika suasana sedang sepi, atau bahkan ketika ada sesuatu yang tanpa sengaja mengingatkanmu pada hari itu. Kamu mungkin sudah mencoba melupakannya, meyakinkan diri bahwa itu hanya sebuah ucapan, tetapi suara tersebut tetap kembali dan berulang seolah-olah tidak pernah benar-benar pergi.
"Ucapanmu mungkin selesai saat itu juga. Tapi bagi orang lain, bisa jadi suara itu terus berulang tanpa henti di kepalanya."— 19 letters (TikTok)
Ada kata-kata yang selesai bersamaan dengan percakapan. Setelah diucapkan, orang-orang kembali menjalani hari seperti biasa. Mereka tertawa, berbicara tentang hal lain, lalu melupakan apa yang sebelumnya terjadi. Namun bagi seseorang yang menerima kata-kata itu, percakapannya mungkin belum benar-benar selesai. Kalimat tersebut masih tinggal di dalam hati, perlahan berubah menjadi pertanyaan, keraguan, bahkan cara baru untuk memandang dirinya sendiri. Mungkin awalnya ia hanya merasa sedih. Namun setelah kata-kata itu terus berulang, ia mulai bertanya, “Apa benar aku seperti yang mereka katakan?” Ia mulai melihat kekurangan yang sebelumnya tidak pernah terlalu ia pikirkan. Ia mulai merasa kurang, merasa tidak cukup, atau merasa ada sesuatu yang salah pada dirinya.
Dan yang terkadang terasa paling menyakitkan adalah ketika kata-kata itu datang dari orang yang dekat. Dari seseorang yang kita percaya. Seseorang yang selama ini kita anggap memahami kita. Karena kita mungkin bisa lebih mudah mengabaikan ucapan orang asing, tetapi kata-kata dari orang terdekat sering kali memiliki jalan yang lebih cepat untuk sampai ke hati. Kita mengenal suaranya. Kita mengingat ekspresinya. Kita tahu bahwa orang tersebut mengenal banyak bagian dari hidup kita. Karena itu, ketika ia mengatakan sesuatu yang menyakitkan, kita tidak hanya mendengar kalimatnya. Kita juga mulai mempertanyakan diri sendiri melalui sudut pandangnya.
Mungkin orang itu tidak bermaksud menyakiti. Mungkin ia sedang marah, kecewa, lelah, atau hanya berbicara tanpa benar-benar memikirkan bagaimana kata-katanya akan diterima. Mungkin setelah mengucapkannya, ia merasa semuanya sudah selesai. Namun bagi orang yang mendengarnya, tidak selalu semudah itu. Ada kalimat yang terus dibawa pulang. Ada ucapan yang dipikirkan berulang kali sebelum tidur. Ada kata-kata yang tanpa sadar menjadi suara baru di dalam kepala, lalu muncul setiap kali kita melakukan kesalahan atau merasa tidak cukup baik.
Kadang, luka dari sebuah ucapan tidak selalu terlihat. Tidak ada bekas yang bisa ditunjukkan. Tidak ada bagian yang dapat diperban. Dari luar, seseorang mungkin masih tersenyum dan berbicara seperti biasa. Ia tetap datang ketika dibutuhkan, tetap menjawab saat diajak berbicara, bahkan mungkin tetap bercanda seolah tidak terjadi apa-apa. Namun di dalam dirinya, ada sesuatu yang berubah. Ada bagian yang menjadi lebih hati-hati. Ada kepercayaan diri yang perlahan mengecil. Ada ketakutan untuk melakukan sesuatu karena ia tidak ingin kembali mendengar kalimat yang sama. Dan mungkin, tidak semua orang menyadari bahwa satu ucapan bisa memiliki perjalanan yang jauh lebih panjang daripada waktu yang dibutuhkan untuk mengatakannya.
Namun jika kamu sedang membawa kata-kata seperti itu sampai hari ini, aku ingin kamu berhenti sejenak dan mengingat sesuatu. Apa yang pernah dikatakan seseorang tentangmu tidak selalu menjadi kebenaran tentang siapa dirimu. Sebuah ucapan bisa lahir dari emosi, sudut pandang yang terbatas, kesalahpahaman, atau bahkan luka yang sedang dimiliki oleh orang yang mengucapkannya. Kamu boleh merasa terluka. Kamu boleh mengakui bahwa kalimat itu meninggalkan bekas. Kamu tidak harus berpura-pura baik-baik saja hanya karena orang lain menganggapnya sebagai candaan atau sesuatu yang seharusnya sudah dilupakan. Perasaanmu tetap memiliki tempat, dan rasa sakitmu tidak menjadi berlebihan hanya karena orang lain tidak melihatnya.
Tetapi pelan-pelan, cobalah untuk tidak membiarkan satu ucapan mengambil seluruh ruang di dalam dirimu. Jangan biarkan kata-kata yang pernah melukaimu berubah menjadi cara kamu berbicara kepada diri sendiri. Jika seseorang pernah mengatakan bahwa kamu tidak cukup baik, bukan berarti kamu harus mengulang kalimat itu setiap kali melakukan kesalahan. Jika seseorang pernah meremehkanmu, bukan berarti kamu harus terus melihat dirimu sebagai seseorang yang tidak mampu. Kamu adalah lebih dari satu kalimat yang pernah diarahkan kepadamu. Kamu adalah seluruh perjalanan yang telah kamu lewati, semua usaha yang pernah kamu lakukan, setiap kebaikan yang kamu berikan, dan keberanianmu untuk tetap bertahan meskipun ada hari-hari yang terasa berat.
Mungkin melupakan bukanlah satu-satunya cara untuk sembuh. Ada beberapa ucapan yang memang tidak mudah hilang, terutama ketika ia datang dari seseorang yang kita sayangi. Namun kamu bisa belajar melihatnya dengan cara yang berbeda. Bukan lagi sebagai suara yang menentukan siapa dirimu, melainkan sebagai pengalaman yang pernah melukaimu, tetapi tidak memiliki hak untuk menentukan masa depanmu. Kamu tidak harus terus membenci orang yang mengatakannya. Kamu juga tidak harus memaafkan sebelum hatimu siap. Yang paling penting, jangan sampai kata-kata itu membuatmu ikut meninggalkan dirimu sendiri.
Dan sebelum tulisan ini berakhir, aku ingin mengatakan sesuatu. Mungkin selama ini aku juga pernah mengucapkan kata-kata yang melukai seseorang. Mungkin ada kalimat yang keluar begitu saja tanpa aku pikirkan lebih jauh. Mungkin ada candaan yang menurutku biasa, tetapi ternyata tinggal lebih lama di hati orang yang mendengarnya. Mungkin ada ucapan yang sengaja maupun tidak sengaja membuat seseorang merasa tidak cukup, merasa tidak dihargai, atau merasa sendirian. Jika salah satu orang itu adalah kamu, dan jika pernah ada kata-kataku yang meninggalkan luka di dalam hatimu, aku meminta maaf.
Aku tahu permintaan maaf tidak selalu bisa menghapus apa yang sudah terjadi. Ia tidak bisa membuat sebuah kalimat yang pernah menyakitkan tiba-tiba menghilang dari ingatan. Tetapi aku berharap permintaan maaf ini bisa menjadi pengakuan bahwa perasaanmu layak didengar. Bahwa luka yang kamu rasakan bukan sesuatu yang harus dianggap kecil. Dan bahwa aku juga masih belajar untuk lebih berhati-hati, karena setiap kata yang keluar dari diri kita mungkin akan menjadi bagian dari cerita yang dibawa orang lain jauh setelah percakapannya selesai.
Mungkin setelah membaca tulisan ini, kamu masih mengingat kata-kata yang pernah melukaimu. Tidak apa-apa. Kamu tidak harus langsung melupakannya hari ini. Tetapi semoga, perlahan-lahan, kamu bisa mengganti suara itu dengan suaramu sendiri. Suara yang lebih lembut. Suara yang tidak terus menyalahkan. Suara yang mengingatkan bahwa kamu tetap berharga, bahkan setelah mendengar hal-hal yang membuatmu meragukan dirimu sendiri.
Karena pada akhirnya, kata-kata orang lain mungkin pernah tinggal di dalam kepalamu, tetapi kamu masih memiliki kesempatan untuk memilih suara mana yang ingin kamu dengarkan lebih lama. Dan semoga, setelah semua yang pernah kamu dengar, suara yang paling sering kembali kepadamu adalah suara yang berkata,
"Aku tidak harus menjadi sempurna untuk layak dihargai. Aku tidak harus memenuhi semua harapan untuk menjadi cukup. Dan satu ucapan yang pernah melukaiku tidak akan pernah mampu menjelaskan seluruh diriku."
Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Semoga tulisan ini bisa menemani kamu yang mungkin masih membawa kata-kata lama di dalam hati. Jika hari ini kamu belum bisa melupakannya, tidak apa-apa. Pelan-pelan saja. Kamu tidak harus memaksa dirimu untuk segera sembuh. Beri dirimu waktu untuk memahami, menerima, dan kembali mendengar suara hatimu sendiri dengan lebih lembut.
Sampai bertemu di tulisan berikutnya.
Dari aku,
yang juga masih belajar menjaga kata-kata dan lebih lembut kepada diri sendiri. 🤍
ヾ(^▽^*))
Aku berharap tulisan ini bukan hanya sekedar bagian dari blog, namun bisa memberikan refleksi sekaligus harapan untuk kamu yang masih terjebak dalam kebencian bahkan kekecewaan pada diri kamu sendiri.
Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca tulisan ini. Jika ada bagian yang terasa dekat denganmu, mungkin itu karena kita sedang belajar hal yang sama... mencintai diri sendiri dengan cara yang lebih lembut. Kamu tidak perlu menjadi siapa pun selain dirimu sendiri. Apa yang kamu miliki hari ini mungkin adalah doa orang lain. Jaga dirimu baik-baik, dan jangan lupa beristirahat dari dunia jika sudah terlalu bising.
Jika kamu ingin berbagi cerita atau pemikiran setelah membaca tulisan ini,
aku akan senang membacanya di kolom komentar.
Dan jika kamu ingin mengikuti perjalanan tulisanku selanjutnya, aku juga berbagi potongan refleksi di Instagram @riff_xlvii dan @serenesoul.xsolunar
Tulisan ini tidak bertujuan menyelesaikan semua masalahmu. Ia hanya ingin menjadi teman duduk sejenak... menemani, bukan menggurui. Jika setelah membacanya kamu masih membawa beban, tidak apa-apa. Ada hal-hal yang memang tidak selesai hanya dengan kata-kata. Serahkan sisanya pada Tuhan, karena ada hal-hal yang lebih tenang jika tidak kita pikul sendirian.
Terima kasih sudah membaca sejauh ini. Semoga kamu selalu diberi ruang untuk bernafas, dan kekuatan untuk tetap memilih dirimu sendiri.